My Knight #The_Last

100 hari mencintai kamu. 









   

100 hari mencintai kamu. 
100 hari yang nggak aku sangka, berlalu secepat ini. 
Makasih ya, Mas... Kamu ngajarin banyak hal sama aku. 
Hadirnya kamu itu anugrah. Kamu jawaban atas do’a-do’a aku. Setidaknya, sampai saat ini aku masih berpikir seperti itu. Kamu adalah keindahan yang terangkum dalam setiap untaian do’aku.
Bisa mencintai kamu, walau dalam waktu secepat ini udah ngasih banyak kebahagiaan sama aku. Buat semua hal yang kamu kasih, semua perlakuan yang kamu tunjukkin, semua perasaan, bahkan semua diam-mu atas segala sikap aku, aku cuma bisa ngucapin makasih. 
Makasih banyak, Mamas... Na sayang kamu...

Aku nggak pernah nyangka sebelumnya. Terlintas pun tidak. Untuk bisa mencintai lagi. Untuk bisa menyayangi lagi, untuk bisa menerima seseorang-lain lagi di hati aku. Trauma masa lalu terlalu dalam untuk orang lain mengerti dan selami. Tapi kamu, kamu pengecualian. Atau mungkin, jika aku boleh bilang... kamu adalah seseorang yang Tuhan rencanakan untuk mengangkatku, menarikku dari sisi gelapnya hidup. Tapi aku juga nggak nyangka, Mas... Kita berakhir secepat ini.

Nggak akan ada lagi SMS sapaan dari kamu di Hp aku tiap aku bangun pagi nanti...
Nggak akan ada SMS penyemangat dari kamu yang ngingetin aku untuk selalu ikhlas jalanin hari...
Nggak akan ada lagi yang manggil aku ‘Bucug’....
Nggak akan ada lagi yang rajin miskolin aku untuk bangunin sholat Ashar saat aku keenakan tidur siang...
Nggak akan ada lagi yang nemenin aku lari pagi sama Laskar Alif kita...
Nggak akan ada lagi kamu yang nyemangatin aku untuk latihan tennis...
Nggak akan ada lagi acara masak bersama yang penuh dengan eksperimen kita...
Nggak akan ada lagi teguran lembut dari kamu untuk aku yang makannya berantakan...
Nggak akan ada lagi acara aku masakin kamu dan melihat kamu makan dengan lahapnya...
Nggak akan ada lagi tawa kegelian dan nafas yang hampir habis saat aku menggelitik leher dan pinggang kamu...
Nggak akan ada lagi kamu yang selalu ada di saat aku kesusahan...
Nggak akan ada lagi bantuan dari kamu di saat aku atau teman-temanku kesulitan...
Nggak akan ada lagi pasangan yang bisa aku bawa saat ada temanku yang mengundang ke acara pernikahannya...
Nggak akan ada lagi yang memujiku cantik dengan pakaian apapun yang ku pakai...
Nggak akan ada lagi kamu yang begitu peduli sama kesehatan aku...
Nggak akan ada lagi kamu yang selalu ingetin aku untuk puasa sunah setiap Senin Kamis atau 3 hari purnama di setiap bulannya...
Yang bikin aku miris...
Nggak akan ada lagi kamu yang aku aamiin-in Al-Fatihahnya dan nggak akan ada lagi kamu yang ngoreksi tajwid dan bacaan Qur’an aku...

Nggak akan ada lagi kamu di hidup aku, Mas...

100 hari masih terlalu cepat bagi aku untuk bisa mencintai kamu dengan segenap hati yang aku punya... Tapi kamu terlanjur matahinnya. Berkeping-keping.
Kembalinya kamu manggil aku 'Mbak' itu udah cukup norehin luka dalam yang aku nggak tau kapan bisa sembuhnya jika hanya aku biarkan seperti ini...
Ajarkan aku, bagaimana harus menghilangkan rasa pilu di hati ini setiap aku melihat sidik jarimu di barang-barangku, melihat manisnya senyum kamu di foto dompetku, ataupun mendengar namamu terngiang di kepalaku...


100 hari kebersamaan kita yang harusnya bisa menjadi 100 bulan, 100 tahun, 100 abad dan selamanya di Jannah kelak...
100 hari yang hanya membuatku makin jatuh kepadamu....sementara kamu, semakin menjauh dari aku, masalahku, dan hidupku...
100 hari yang ternyata cuma jadi kenangan menyakitkan bagi aku yang pernah bahagia-tak-terhingga bersama kamu.

Aku cuma bisa menghela nafas terpanjang dan terberat yang aku punya.
Hanya Allah yang nguatin aku. Untuk nggak lagi bertindak gila seperti dulu. 
Bahwa datangnya kamu, itu Allah yang lakukan. IA lakukan dengan terbata, tertata dan terencana. 
Dan perginya kamu... aku yang lakukan dengan caraku yang begitu berantakan. 
Maafin Ina, Mas... Maafin aku....

Betapa aku berterima kasih sama kamu, Mas... 
Sedih, senang, duka, suka, derita atau bahagia yang tercipta dengan keberadaan kamu di hidup aku, itu semuanya aku syukuri. Sangat aku syukuri. 
Aku sayang kamu, Dimas. Sayang yang terlalu. 
Ini yang aku takutin. Saat aku mempercayakan hatiku pada makhlukNya, cuma derita yang aku terima. 
Aku pernah bahagia... Tapi bukan untuk merasakan derita. Bukan dari kamu, Dimas... Bukan... 
Hatiku terlalu lemah untuk bisa menerima segala perlakuan ini dari kamu, seseorang yang aku percayakan untuk menguasai hatiku di bawah rencanaNya...

Sayang ini terlalu besar untuk bisa membenci kamu.
Rindu ini terlalu hebat untuk bisa mengingatmu dalam airmata.
Pengharapan ini terlalu muluk untuk wanita seperti aku yang merindukan lelaki pengagum nabi sebagai teman hidupnya...
Aku terlalu mencintai kamu.

Dan saat Allah cemburu dengan cinta ini... Aku bisa apa, mas?
Ada yang lebih berhak mengatur hidup kamu, jauh melebih aku yang baru 100 hari berada di dalam hidupmu...
Allah telah menskenariokannya...
Dan jika kamu berkata ini indah, aku yang pernah bermimpi untuk menjadi makmum-mu ini tak kan mampu berkata tidak atas kehendakNya dan kemauanmu...

Jikapun memang ini yang terbaik untuk kamu, aku dan ‘kita’... Pintaku padaNya hanya satu.
Semoga Allah mendatangkan pengganti yang lebih baik dari diriku. Yang lebih mengerti kamu. Yang sangat menyayangi kamu. Yang mencintai kamu dengan jalan yang IA kehendaki. 
Walau dia bukan aku... Walau dia bukan diriku... Kamu harus bahagia. Harus, Mas...

Senyummu adalah ceriaku, Mas...
Ceria-mu adalah bahagiaku...
Dan bahagiamu... adalah jawaban atas seluruh do’a-do’aku yang nyaris berisi semua tentangmu...

Keputusan hari ini adalah rencanamu di masa depan.
Putusnya kita hari ini adalah pertanda bahwa ada rencana lain yang Tuhan susun untuk hidupmu.

Dan tentang hidupku? Itu bukan hal penting, Mas...
Karena jika memang aku penting untukmu, tak kan semudah ini kamu melepasku...
Tak kan seringan ini langkah kakimu pergi dari hidupku...
Tak akan seperti ini kamu mempermainkan perasaanku...
Akhirnya aku mengerti, bahwa aku, tak seberharga ini untuk kamu perjuangkan...

#catatan_terakhir_tentang_abby_dan_buna




































P.S: Kembar... maafin Buna ya... Nggak bisa bikin kalian kenal Abby secara langsung. Maafin Buna yang ga bisa ngejagain Abby buat kalian.

1 komentar:

  1. Na, aku g' pernah mutusin kamu..
    syapa duluan coba yang sms mau ngajak putus?
    ina kn?
    aku mau mutusin hubungan kita yang bwat kita jauh dari Allah Na..
    aku sayang kmu..
    tpi mungkin caranya bukan sperti ini..
    cinta nya Fatimah dan Ali itu adalah cinta dalam diam..
    cinta yagn suci dari dalam hati..
    ada saat nya ktika mengucak kata 'sayang' itu kelak bernilai pahala..
    ada masa nya ktika mencium kening mu itu bernilai ibadah..
    sekarang aku udah ngerti mau kemana hubungan ini..
    untuk saat ini, hal yang terbaik adalah kita saling menjaga jarak ntuk lebih mendekatkan diri kpada nya..
    inget 'segitiga' yang kamu ajarin ke aku kn?
    Demi Allah aku masih sayang sama kamu..
    aku akn bersikap sperti biasa stiap harinya..
    ngingetin kmu solat, kasih kmu smangat lwat sms,ngingetin jangan telat makan dan jangan minum es dll walaupun g' kmu gubris, tpi aku yakin itu smua ada gunanya..
    inilah skenarionya yang harus kita jalani..
    yakin dan percaya kalau inilah yang terbaik ntuk kita..
    jgn putuskan silaturahmi ini ya Na..
    tidak akan mencium bau surga org yang memutuskan tali silaturahmi..
    kmu boleh marah, kamu boleh kesel, tpi aku tidak akan pernah bisa marah dan kesel sma kmu..
    mungkin aku adalah orang terbodoh yang mau ngelakuin hal ini..
    tpi inilah aku..
    inilah caraku mentarbiah calon istriku..
    tidak ada sehelai daun yang jatuh tanpa seizin dan khendaknya..
    g' ada yang sia2..
    aku yakin itu..
    walaupun kmu masih marah atau kesel sama aku tpi aku yakin dibalik itu smua, cpat atau lambat akan berbuah manis dikemudian hari..
    saat ini aku hanya bisa berbaik sangka kpadamu..
    bukanya aku g' mau mempertahankanmu, justru sebaliknya..
    aku malah mengikatmu lebih erat..
    insyawloh klo kita menjalani hubungan ini dengan benar, kembali seperti Fatimah dan Ali, kembali seperti dulu lagi,janjinya pasti mnjadi sbuah keniscayaan..
    aku akn slalu ada ntuk kamu..
    aku akn slalu memperhatikanmu walaupun kmu tidak mengetahuinya..
    sudah ku bilang aku tidak pandai merangkai kata2 kasih dan cinta..
    aku hanya lelaki biasa..
    pembuktian cinta dan sayangku akan kurealisasikan lewat perbuatan dan doa ku tulus untuk mu..
    kamu g' salah Na..
    aku yang kurang perhatian..
    aku yang kurang ngertiin kamu..
    ambil pesan dan plajaran yang berharga dari kjadian ini..
    hidup hanya sekali dan tidak lain hanya untuk kembali..
    isi sisa hari2 kita dengan hal2 yang bermanfaat..
    tetap jaga taubat kita ya..
    aku akan slalu ada ntuk kamu dan aku akan slalu menunggu mu sampai kapan pun..
    aku bukan "masih" sayang kamu...
    tapi aku selalu sayang kamu..
    ini skenarionya, jalani dengan berbaik sangka..
    toh kalau jodoh g' kemana..
    ttap smangat mnjalani hari, karena aku akan selalu menanti dirimu, bgitu juga dengan si kembar..

    love you,Buna...

    BalasHapus

Terima kasih sudah singgah. Tak perlu segan untuk menyanggah atau memberi tanggapan atas pikiran yang tercurah. Kalau ada yang ingin ditanyakan atau mengganggu pikiran bisa kirim DM ke @celoteholic ya!

Diberdayakan oleh Blogger.