We are born to be a CHAMP!


Andromeda Liemas

Itu namaku. Jangan pernah tertawa meremehkannya. Dan jangan pernah sungkan bertanya kepadaku tentang makna dibaliknya. Bahwa aku, telah lahir sebagai juara utama yang membawa bintang kemenangan bagi  ayah ibuku. Fakta bahwa aku terlahir sebagai pemenang yang tak mungkin kalian sangsikan. Menyisihkan jutaan benih lainnya, aku yang terlahir dan tumbuh sempurna.

Ya, aku juara sejak aku dilahirkan. That’s why, kalo kamu perhatikan ada ‘Medali Emas’ yang selalu kubawa. Ya, di dalam namaku, ada sebuah tanda kehormatan bagi para juara. Dan aku tau, tak mudah mengembannya. Sementara, hidup ini, bukan hanya terdiri dari aku, aku dan aku. Ada banyak juara-juara lainnya, yang walau memang mereka tak ‘membawa’ medali emas di dalam namanya, tapi mememiliki trofi-trofi juara di dalam hidupnya.

Aku hanya ingin berbagi pengalaman, kepada kalian-kalian yang enggan bersyukur dan menolak untuk bahagia. Kepada kalian yang selalu merasa kurang, sementara apa yang telah Tuhanmu berikan, itu jauh lebih dari cukup. 
Dimana kalian selalu mencari yang lebih, lebih dan lebih tanpa merasa telah mengabaikan apa yang sudah kalian miliki. Bukankah ’sesuatu’ itu akan terasa ‘bukan apa-apa’ saat tidak ada lagi perhargaan dari diri kalian atasnya? 
Lalu, jangan salahkan jika Tuhan mengambilnya kembali. Mengambil apa-apa yang Ia pernah titipkan. Karena apa-apa yang tidak dijaga, hanya dua kemungkinannya: rusak atau mati.

Contohnya saja, seperti ilustrasi yang kan kugambarkan disini.
“Anda adalah seorang karyawan yang bekerja di suatu perusahaan yang sedang berkembang. Menjadi bagian dari suatu divisi yang terdiri dari kawan-kawan hebat yang walau kadang menjadi lawan yang kuat. Setelah beberapa kurun waktu Anda bekerja, Anda menunjukkan peningkatan dan memiliki prestasi yang cukup bagus. Tentunya ini menyenangkan hati pimpinan Anda bukan? Dan saat ini, Anda sedang berada di hadapannya dan bicara empat mata, hanya dengannya.
“Saya merasa puas dengan kinerja Anda. Maka dari itu, saya akan tingkatkan penghasilan Anda sebanyak 25% terhitung sejak bulan ini.”, ujar Pimpinan.
Huaaaah, tak terbayang bahagianya bukan? Anda keluar dari ruangan dengan senyum sumingrah dan wajah berseri-seri. Membuat teman-teman satu divisi Anda bertanya-tanya dan sungguh penasaran. Anda, masih tetap tersenyum dan merasa sangat bahagia pada hari itu, bicara kepada mereka, “Gue lagi seneng nih! Tapi lo pada jangan bilang-bilang ya. Cukup lo-lo aja yang tau. Gajih gue naik men! 25%!!! Sumpah, baek banget si boss!”
Setelah Anda berbicara seperti itu... impact seperti apa yang Anda harapkan? Ucapan selamat? Decak kekaguman? Atau bahkan helaan nafas yang menyertai beban keirian dari teman-teman Anda?
Bagaimana jika tidak satupun dari ekspektasi itu yang muncul? Bagaimana jika mereka malah bicara seperti ini:
“Oh, gitu... Gue kirain apa.... Minggu lalu gue dipanggil Boss... Tapi sorry ya men... Gajih gue naiknya 40%. Bukan 25% lagi...”, si A dengan entengnya bicara sambil menepuk pundak Anda.
#DEG! pertama yang Anda rasakan.
“Halah, gue pikir paan... Gue emang ga naek sih gajihnya... Tapi Boss bilang, akhir tahun ini gue bisa pake bonus liburan dia ke Macau dan Honolulu karena si Boss mau umroh. Project yang gue bawain sama Boss, tembus ke klien, sob! Hehehehe”, si B tertawa sambil bergerak menjauh dari kubikel kerja Anda.
#DEG! kedua yang Anda rasakan.
“Lho, jadi cuma gue nih yang difasilitasi kendaraan kantor sejak bulan depan? Beneran Cuma gue yang diijinin bawa mobil keren itu kemana-kemana? Wuah, rejeki gue dong!!”, C berkata keheranan.
Dan saat si A dan B dan D, E, F lainnya sedang berusaha ‘merayakan’ apa yang disebut rejeki oleh si C itu dengan kosetan, tinjuan pelan, dan segala kata ‘sialan’, anda mengalami #DEG! ketiga.
Dan mungkin tanpa perlu D,E,F dan yang lainnya bicara, senyum sudah tak mengembang lagi di wajah Anda. Saat #DEG-#DEG itu mengacaukan ritme jantung Anda dengan apa itu yang disebut dengki, saat itulah Anda berhenti bahagia.
Ya, saat itulah Anda merasa kenaikan gajih 25% itu bukan apa-apa. Bukan sesuatu yang pantas disyukuri, bukan sebuah rejeki yang harus Anda jaga. Bukan sesuatu yang kan menjadi berkah bagi pekerjaan Anda. Saat itulah Anda berhenti untuk bahagia.”

Jelas menyakitkan menjadi ‘Anda’ dalam ilustrasi tersebut jika kita tidak tahu bagaimana rasanya bersyukur dan ikhlas menerima apa yang Tuhan takdirkan.
Jelas menyakitkan menjadi ‘Anda’ jika kita tidak tahu bagaimana caranya merayakan kebahagiaan. Bukan hanya kebahagiaan kita, tapi juga kebahagiaan milik orang lain.

Berhenti membandingkan. 
Stop compare. 
Stop competite the others. 

Kamu nggak akan pernah berhenti berkompetisi jika lawanmu adalah dunia. Dunia ini nggak pernah menjanjikan kemenangan bagi siapapun yang berlomba mengejarnya.

Yang harus kamu mulai dari sekarang adalah COMPETITE WITH YOUR SELF.
Berkompetisilah dengan dirimu sendiri. Dengan apa-apa yang membuatmu bahagia. Temukan, dan jalankan.
Lakukan apa yang membuatmu merasa puas dan cukup.
Fokuslah kepada dirimu sendiri. Bukan pada orang lain.
Bahagiakan dirimu sendiri. Dan kamu akan membahagiakan orang lain.
Jangan menjadi copy cat yang berusaha menjadi yang terbaik di antara yang terbaik. Lalu apa bedanya kamu dengan mereka? Mengejar kesempurnaan yang hanya milik Tuhan?
Jadilah yang terbaik dari dirimu sendiri, dan kamu akan mendapatkan yang terbaik dari apa yang semesta berikan.

Saat kamu merasa puas dengan hasil masakanmu, tentunya racikan koki bintang 5 tidak akan mampu menandingi kelezatannya.
Saat kamu merasa senang dengan hasil lukisanmu, Pablo Picaso pun tak akan sanggup menawar harganya.
Dan saat kamu merasa lega dan bahagia dengan hasil pekerjaanmu, hanya ada satu kata yang mengikutimu di belakang, KESUKSESAN.

Karena sukses bukan diukur dari seberapa banyak bling-bling-cling-cling yang kamu punya kan?

Be the best of your self. Not the best among the best. Stop competite with others. Cause you have to win your own personal battle.
Ada kompetisi yang jauh lebih menarik di dalam diri masing-masing kita, perjuangan melawan nafsu untuk menguasai dunia.

Dan ingat... kita terlahir sebagai JUARA.

Tidak ada komentar:

Terima kasih sudah singgah. Tak perlu segan untuk menyanggah atau memberi tanggapan atas pikiran yang tercurah. Kalau ada yang ingin ditanyakan atau mengganggu pikiran bisa kirim DM ke @celoteholic ya!

Diberdayakan oleh Blogger.