ELEGI PATAH HATI


Bukan… Ini bukan patah hati.
Karena aku tau betul bagaimana rasanya terpatah-patah menyatukan hati yang retak untuk bisa berdenyut kembali. Pilu.

Bukan seperti ini rasanya patah hati. Karena tiap aku menangis membayangkannya, bukan cuma kesedihan yang aku rasakan. Tapi juga mengulang rasa bahagia yang pernah kau buat.

Jujur, tak kan pernah sampai fikirku untuk bisa berada di posisi ini sebelumnya.
Aku yang dulu pernah disakiti, dikhianati, dibohongi, dibuat serasa mati, bisa merasakan apa yang aku sebut cinta. Detakan di dada yang bermacam rasanya.

Aku pernah dikecewakan oleh seseorang yang mengangkatku tinggi-tinggi.
Karena setelahnya, hempasan yang ia buat membuat lebam di sekujur hati.

Aku pernah diimingi janji-janji akan hidup bak putri yang memiliki apapun yang pernah hadir di mimpi. Lalu kenyataan menghempaskannya lagi. Pangeran tak lain adalah seseorang dengan topeng masa depan menutupi borok masa lalunya. Masa lalu yang terus dan masih menghantui. Maka aku memilih pergi.

Dan kini aku dihadapkan oleh sesosok pria yang sangat sederhana. Sesederhana mimpiku untuk bisa menggenapkan setengah agama ini dengan siapapun dia yang mampu mengimami.

Seorang pria yang entah bagaimana ceritanya, bisa berkata bahwa sudah sejak lama ia menanti untuk bisa bicara seperti ini kepadaku. Panjang dan lebar. Hingga topik pembicaraan pun meluas tak hanya dari sekedar kabar, tapi juga mulai bertanya tentang hati.

Hati yang kupikir sudah mati, ternyata retakannya berdenyut lagi.

Ah, perasaan apa lagi ini? Pesimis dengan perasaan sendiri.
Aku mengabaikanmu, pada mulanya.

***

Hari berganti, dan kamu tetap disini. Menemani walau aku (bilang) lebih suka sendiri. Mendengarkan walau ceritaku hanya sekedar sepatah dua patah kata yang angkuh. Selalu ada, sampai aku tak sadar bahwa keberadaanmu mulai menjadi candu.

Entah bagaimana caranya, hati ini berdenyut lagi. Aku tergugu. Haru.

Lama sekali aku merenungkan tentang perasaan ini.
Apakah benar hati ini bisa merasakannya lagi?
Karena entah sejak kapan aku lupa bagaimana merasakan hangat di dada.
Memandang langit malam jadi begitu mendamaikan saat  mengingat senyummu yang selalu membuatku membuang muka. Menahan merah agar kamu tidak bertanya. Sungguh, kamu itu rewel sekali.

Karena entah sejak kapan perhatianmu yang kecil, menjadi potongan-potongan pondasi yang kokoh untuk mendirikan sebuah rumah dalam hatiku yang sempat porak poranda. Kamu mulai mengisinya. Dengan apapun itu, kamu mulai mengisinya. Setiap hari, semakin jadi.

Karena entah sejak kapan, aku pun mulai melihatmu dengan kedua mata ini, dan merasakan dengan hati.

Ya, aku pun mulai menyukaimu.
Senyummu, tingkahmu, cara bicaramu, candaanmu, nasihatmu, dan bahkan kebodohan-kebodohanmu sebagai lelaki yang tidak mengerti bahwa aku wanita yang malu berkata bahwa aku sayang padamu.

Tapi ternyata… Aku terhempas lagi.

Tertusuk sembilu nyatanya tidak sesakit apa yang dirasa hati. Sampai sesak aku bernafas saat kamu bilang, hanya ingin berteman. Setelah semuanya? Setelah kamu bantu aku untuk tersenyum lagi? Setelah dirimu datang dan memberi kehangatan lagi?

Oh… Aku membeku pada awalnya.
Sakit kali ini jauh lebih menusuk dari hempasan lelaki yang pernah mengangkatku tinggi-tinggi atau menjanjikan aku menjadi putri.
Tak tahu mengapa aku menangisimu seperti wanita yang ditinggal pergi kekasihnya, padahal bagimu aku bukan siapa-siapa.

Tapi apakah kamu pernah dengar? Bahwa luka yang pernah kamu rasakan, jika tidak membuatmu mati, maka akan membuatmu kuat?

Mungkin itu yang terjadi pada hatiku. Aku memang menangis. Tapi setelahnya aku mampu tertawa kembali. Aku merasa sakit, tapi aku tak sanggup membenci.
Aku berdamai pada hati, dan pada diri sendiri, bahwa jika memang ini ujian yang harus kulewati, maka sampai kapanpun, aku tak boleh lari.

Tak kupungkiri hati ini masih menghangat tiap mendengar namamu. Masih berbunga saat bertemu dan bersitatap denganmu. Masih berbinar mata ini saat memandang tawamu. Tapi pengharapanku tak lagi tinggi.

Bukan cinta, jika ia dipaksakan ada. Bukan pula cinta, saat ia direnggut dengan paksa.
Dan aku menerima datang dan perginya dengan sukarela.


Aku masih disini, saat kamu hanya memanggilku teman.
Aku masih disini, saat kamu berbagi perhatian dengan siapapun disana.
Aku masih disini, saat kamu terdiam, tak tau harus berbuat apa.

Bukankah sudah kupastikan kepadamu?
Aku akan baik-baik saja jika kau pergi. Hati ini sudah ku buat kuat dari jauh-jauh hari sejak menjalaninya bersamamu.
Tapi aku tak mampu memastikan, apakah aku akan tetap baik-baik saja, saat kau nanti kembali.

Aku menunggu sampai hatimu berkata iya untuk kudiami.
Aku menunggu sampai rasamu nyaman untuk berbagi.
Aku menunggu sampai tak ada lagi yang perlu kau sesali.

Aku menunggumu dengan tabah disini.
Sampai habis batas waktuku.
Sampai kering seluruh air mataku.
Sampai mati api harapanku atas dirimu.

Aku menunggumu dengan tabah disini.

Tapi jika memang kau ingin pergi….

Kumohon dengan sangat….
Apapun yang kan terjadi padaku nanti….
Jangan pernah kembali.

Ini bukan elegi patah hati.



Fatih & Fera dalam potongan puzzle ke-11

Tidak ada komentar:

Terima kasih sudah singgah. Tak perlu segan untuk menyanggah atau memberi tanggapan atas pikiran yang tercurah. Kalau ada yang ingin ditanyakan atau mengganggu pikiran bisa kirim DM ke @celoteholic ya!

Diberdayakan oleh Blogger.