H-3: UNGKAPAN PAMIT CALON PENGANTIN WANITA


Rabu, 21 September 2016

Jadi…

Saya berlinang air mata waktu nulis ini. Bener-bener gak kebayang buat baca beginian di depan orang banyak, dan bener-bener gak tau gimana anak gadis ayah yang cengeng ini  harus nahan tangisnya sampai bacaan itu selesai. 

Ini ungkapan pamit yang saya tulis sendiri. Karena benar-benar mengartikan pamit dari keluarga ini untuk membina keluarga sendiri….

Semoga berkenan.

===============

A’udzubillahiminasy syaitonirrojiim
Bismillahirrahmaannirrahiim

Astaghfirullahal’adzim
Astaghfirullahal’adzim
Astaghfirullahal’adzim

Asyhadualla illa ha illallah, Wa asyhadu anna muhammadarrosulullah. 

Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad

Terima kasih, Ananda haturkan setulus hati, kepada seluruh keluarga besar dari pihak Ayah maupun Ibu.

Kepada seluruh keluarga Suttan Nyawo Mergo dan warga kampung Bumi Ratu…

Kepada Kakek Djadi, Kakek Man, Iyang, Nenek Mita, Nenek Made, Oma dan para Andung
Kepada para Ayah, Ayah Heri, Abati, Buya Hujat, Sultan, Paksu, Mpun, Om Kiki, Om Wawan…
Kepada para Ibu, Ummi, Manda, Biksu, Ibu Angguman, Bunda Nia, Ibu Kanjeng, Mami Linda, Tante Ira, Tante Uci, Tante Tuti…

Kepada para adik, Ditha, Adhen, Nindy, Nadya, Azhima, Salsa, Alya, Cahaya, Irfan, Arif, Fadh, Aldy, Firman, Fatih, Raffi, Iqbal, Kenzi dan Raihan…

Kepada keluarga besar di Hatta, Nenek Aji, Kakek dan nenek Eja, Nenek Alang, Om Taming sekeluarga, Om Endi sekeluarga, Tante Olong sekeluarga, Om Eko dan istri….

Kepada Mamah siah, Tante intang, Tante santi, kak yayan dan keluarga, yuk anggi, adik narisa dan keluarga, yang rela menempuh ribuan kilometer dari Makassar dan Mamuju demi menyaksikan pernikahan ini.

Dan kepada seluruh keluarga besar yang tak mungkin ananda sebut satu persatu disini…

Ananda berterima kasih banyak…
Terima kasih atas bantuannya selama ini…
Terima kasih atas kebahagiaan yang telah diberikan selama 27 tahun ananda terlahir di keluarga ini. 
Terima kasih atas nilai-nilai kehidupan dan norma budaya yang diwariskan… 
Terima kasih karena mengajarkan ananda, bahwa keluarga di atas segalanya, bahwa rejeki bukan hanya materi, bahwa kesempatan berkumpul dan bisa tertawa bersama adalah sesuatu yang tak ternilai harganya…

Doakan agar ananda mampu menjaga nama baik keluarga besar ini, dimana pun ananda berdiri dan membumi…

Kepada Ayah dan Ibu yang ananda cintai dan hormati…
Setulus hati, ananda menghaturkan permohonan maaf jika selama hidup ini, ananda telah banyak melakukan kesalahan dan kekhilafan, baik melalui perkataan ataupun perbuatan kepada Ayah dan Ibu yang begitu besar cinta dan kasihnya kepada ananda. 

Ananda memohon doa dan restu dari Ayah dan Ibu untuk menjalani bahtera rumah tangga ananda sendiri, agar rumah tangga ananda dan suami nanti, senantiasa rukun, damai, sejahtera, dilimpahi rizki dan keberkahan dari Allah SWT. 

Terima kasih, Ayah… Ibu…
Karena telah mengizinkan ananda memilih imam kehidupan ananda sendiri, mengamanahkan ananda sepenuhnya kepada pria yang ananda cintai untuk dijaga, dilindungi, dan dicintai sepenuh hati, seperti yang telah Ayah dan Ibu lakukan selama ini…
Tidak ada kata-kata yang bisa mengungkapan apa yang Ananda rasakan di hati ini.
Hanya doa setulus hati, agar Allah SWT, selalu menjaga dan melimpahkan rahmatNya kepada Ayah dan Ibu…

Dengan penuh ketakziman…
Ananda mohon pamit kepada Ayah, Ibu dan seluruh keluarga besar…

Izinkan ananda menikah di hari ini, dengan lelaki terkasih bernama Dimas Cunda Nugroho bin Abimanyu dengan mas kawin tersebut, tunai. 

Ananda setulus hati ikhlas dan ridho lillahi ta’ala, Ayah dan Ibu menikahkan Ananda…


Bandar Lampung, 24 Sept 2016

Ananda yang berbahagia terlahir di antara kalian,



Dina Oktaviany Putri





 






====================


Updated:

Jadi, saya baca ini dari dalam kamar dengan membawa mic wireless di genggaman.
Diawali dengan basmalah, tasbih, istighfar dan syahadat, saya menguatkan hati membaca ini. 
Di awal-awal paragraf sampai ke halaman kedua saya masih kuat bacanya.
Tapi saat paragraf “pamit” saya menangis. Menahan sesak. 

Allah….
Rasanya pisah dari orang tua apa memang sebegini sakitnya?
Padahal hanya terpisah ruang, bukan dunia.

Sempat terjeda beberapa detik, sebelum saya mengambil nafas dan melanjutkan membaca.
Sementara dari luar kamar saya mendengar isak tangis dan sesenggukan keluarga yang terdiri dari wanita semua. 

Dan begitu saya keluar kamar….
Mata mereka basah dan merah. Lalu saya dihujani pelukan dan ciuman di pipi.
Sepertinya mereka tersentuh sekali dengan ungkapan pamit yang baru saja saya baca barusan.

Cerita dari teman-teman yang hadir di depan meja akad pun, mereka ikut meneteskan air mata. Pun suami yang tak tahan melihat calon mertuanya menangis di hadapannya. 

Sungguh, sampai kini pun, saya merasa tak akan pernah sanggup membaca ungkapan pamit ini di depan hadapan Ayah dan Ibu.


Anak Tua yang Mellow,


Ananda Dina


Tidak ada komentar:

Terima kasih sudah singgah. Tak perlu segan untuk menyanggah atau memberi tanggapan atas pikiran yang tercurah. Kalau ada yang ingin ditanyakan atau mengganggu pikiran bisa kirim DM ke @celoteholic ya!

Diberdayakan oleh Blogger.