H-1: PENGANTIN BUGIS DAN MALAM MAPPACCI'

Jum’at, 23 September 2016



Loh? Kok udah mantenan aja?

Belum, hey. Ini acara mappacci'. Malam mappacci'.

Acara adat Bugis dengan pakaian pengantin Makassar. Disini calon mempelai wanita biasanya dikasih bekal baik itu wejangan, doa, barang maupun uang oleh para keluarga dan tetua adat.

Karena ayah asli Makassar dan bersuku Bugis, tradisi ini wajib dilakukan setiap ada anak gadisnya yg akan menikah.

Sebelum acara ini dilaksanakan, sudah dilakukan pula pengajian simbolis tamatan Al-Qur'an / mappanre temme' sebagai tanda bahwa si anak gadis sudah mengerti bahwa satu-satunya pedoman hidup adalah Al-Qur'an dan Al-Hadist.

Untuk makna sebenarnya, izinkan saya mengutip dari sini ya, karena jujur saya pun nggak tau apa-apa sama sekali. Putri Bugis yang terbuang, hahahaha

===

Prosesi pernikahan suku Bugis dan suku-suku lain akan melalui 3 tahap, Pranikah, Aqadnikah dan Pascanikah. Salah satu acara pada Pranikah ialah Tudampenni (duduk malam) menyambut Aqadnikah keesokan harinya dengan mengundang tetangga, kerabat dan tokoh masyarakat. 
Acaranya ialah Mappacci/korontigi yaitu pemberian pacci kepada calon pengantin yang dalam bahasa Indonesia dinamai Pacar. Pacar bukan berarti menjalin kemesraan antara pria dengan wanita, tetapi pacar atau daun pacci (Lawsania alba) adalah sejenis tumbuhan yang pada mulanya hanya digunakan untuk pewarna merah/penghias kuku.

Pacci yang dikaitkan dengan kata Paccing dalam bahasa Bugis berarti kebersihan dan kesucian. Karena daun pacci/daun pacar itu mempunyai karakter tersendiri dan dipakai sebagai simbol kesucian, maka pacci juga dijadikan isyarat kegadisan/keperawanan seorang wanita. Dengan demikian wanita remaja yang tidak orsinil lagi, menurut adat tidak musti dilaksanakan acara mappacci baginya. 




Mappacci menurut orang Bugis bermakna “Iyyanaritu gau ri pakke onroi nallari ade mancaji mabbiasa, tampu sennung-sennungeng ri nia’ akkatta madeceng naiyya naletei pammasena Dewata Sewwae
Sebelum adat Mappacci dimulai, terlebih dahulu memilih orang yang akan memberikan pacci kepada calon mempelai. Dalam hal ini tidak boleh sembarang tunjuk, tapi dipilih dari mereka yang punya kedudukan/status sosial yang baik atau keluarga-keluarga dalam kehidupan rumah tangganya sakinah dan harmonis. Ini mengandung makna semoga calon pasangan itu bisa seperti mereka yang meletakkan pacci di telapak tangannya. Begitu juga penentuan jumlah personilnya disesuaikan dengan stratifikasi sosial calon mempelai, tidak boleh ikut-ikutan. Bagi golongan bangsawan tinggi (Datu/Andi) adalah Duakkasera (2 X 9) yaitu 9 pasang suami isteri, golongan bangsawan menengah (Petta/Daeng) Duappitu (2 X 7), 7 pasang suami isteri dan golongan awam cukup 1 X 9 atau 1 X 7 tanpa berpasangan.

Alat perlengkapan yang diperlukan ialah Bekkeng (piring logam/kuningan), daun pacci yang sudah dilumat dan dibentuk bulat, bantal, sarung 7 lembar, pucuk daun pisang, daun nangka 9 lembar, benno (biji jagung/beras yang disangrai hingga mekar), taibani/patti dari sarang lebah sebagai alat penerang diolah dengan cara memberi secarik kain atau kapas lalu dililit dengan patti sebagai sumbu (sekarang diganti dengan lilin). Peralatan tersebut ditata dengan posisi; bantal yang diatasnya tersusun 7 lembar sarung, daun pisang dan daun nangka. Di dekat bantal diletakkan bekkeng yang berisi pacci, benno, dan patti yang sudah dinyalakan. 





Sebelum dimulai, pemandu acara (MC) memimta calon pengantin menuju ke ruangan yang sudah disiapkan dan duduk di depan bantal, didampingi ibu bapak atau keluarga dekatnya, Selanjutnya, MC mempersilahkan mereka secara bergilir yang sudah terpilih. Pertama ia mengambil 2 butir pacci di bekkeng lalu diletakkan dan dipijit-pijit di telapak tangan kanan dan kiri calon mempelai disertai doa (dalam hati) semoga calon ini akan hidup bahagia sejahtera dan selamat dunia akhirat. Seusai itu mereka disuguhkan daun sirih (sekarang diganti dengan rokok atau cindra mata) sebagai tanda terima kasih.




Selama acara berlangsung, Indo Botting (orang tua/kerabat) calon mempelai sekali-sekali menghamburkan benno ke arah yang sedang Mappacci (kurang bermakna kalau hanya menggunakan beras kuning). Setelah semua dapat giliran, pemandu acara mempersilahkan hadirin mencicipi kue-kue tradisional yang telah dihidangkan dalam bosara.



Makna Simbol-Simbol pada acara Adat Mappacci

Setiap simbol yang digunakan dalam acara Mappacci mengandung makna filosofi dan Doa, 
  1. Daun Pacci yang sudah dihaluskan dan dibentuk bulat sebagai simbol kesucian, menandakan bahwa calon pasangan sudah suci dan lembut hatinya, tekadnya sudah bulat memasuki jenjang rumah tangga. (tidak bermakna kalau hanya menggunakan Daun Pacci dalam keadaan utuh tanpa diproses). 
  2. Bekkeng tempat pacci melambangkan 2 insan yang menyatu dalam satu wadah sebagai suami isteri. Semoga pasangan ini tetap harmonis dan lestari hingga ajal menjemputnya. 
  3. Bantal sebagai pengalas kepala, sementara kepala adalah bagian paling mulia bagi manusia. Berarti melambangkan kehormatan dan kemuliaan. Untuk itu calon pengantin diharap senantiasa menjaga harkat dan martabatnya dan saling menghargai. 
  4. Sarung 7 lembar, sarung diidentikkan dengan kesusilaan, 7 lembar diartikan 7 hari seminggu menunjukkankan kewajiban, tugas pokok dan fungsi suami isteri harus dijalan kan setiap hari. Suatu ungkapan buat laki-laki, jangan kawin kalau belum mampu mengelilingi dapurmu 7 X sehari. 
  5. Pucuk Daun Pisang sebagai simbol kehidupan berkesinambungan. Salah satu sifat alami pisang ialah tidak mati sebelum muncul tunasnya, daun tua belum layu daun muda sudah muncul. Hal ini selaras dengan tujuan pernikahan yang akan melahirkan keturunan. Dengan simbol ini semoga pernikahan mereka akan seperti karakter pisang. 
  6. Daun Nangka 9 lembar dimaknai sebagai suatu harapan optimal. Menurut bahasa Bugis, Nangka dinamai Panasa, beda-beda tipis dengan sebutan Minasa yang berarti cita-cita. 9, menunjukkan angka tertinggi. Kiranya keluarga baru ini punya motivasi kerja keras untuk menggapai cita-cita secara optimal. 
  7. Taibani/Patti yang dinyalakan sebagai pelita dapat diartikan calon pasangan akan mampu menerangi rumah tangganya secara bersama-sama dan melahirkan keturunan yang berkualitas, seperti halnya Lebah yang berkerja sama membuat sarang dan menghasilkan madu yang sangat berkhasiat (kurang khidmat kalau hanya pakai lilin). 
  8. Benno, mengandung harapan semoga anak cucu Adam yang akan membentuk keluarga baru senantiasa mengalami peningkatan sebagaimana sebiji jagung atau beras yang tadinya kecil menjadi besar setelah melalui proses penggorengan/sangrai. 

Itulah sekilas tata cara dan makna yang terkandung dari simbol-simbol pada acara Mappacci suku Bugis yang mendekati keasliannya. Adat ini telah membudaya, diwariskan turun temurun sejak sebelum Islam. Setelah agama Islam masuk dan melembaga di Sulawesi abad ke-17, tradisi ini tetap dipertahankan, namun mengalami sinkretisme dan akulturasi (berbaur) dengan budaya Islam. 




Pembauran itu terlihat dengan adanya kegiatan Mappanre temme (khatam Qur’an) dan pembacaan Barazanji sebelum acara Mappacci. Nanti sampai pada bacaan syair Barazanji “Asrakal Badrun Alaina” baru MC mempersilahkan orang yang telah ditunjuk memulai pemberian pacci kepada calon mempelai. Jadi, khatam Qur’an dan pembacaan Barazanji bukan saat akan Aqadnikah seperti yang kita saksikan selama ini. Kiranya adat istiadat ini tetap dilestarikan, simbol-simbol tidak banyak direkayasa dan dimodifikasi sehingga menghilangkan makna hakiki dari adat Mappacci.


Updated:







Kalo inget malam mappacci itu sekarang, bawaannya pengen ketawa ngekek-ngekek karena jadi ngerewind memori kerempongan ibunya ayah, mamah dari Mamuju, kakak dan adik sepupu dari Makassar yang sibuk ngedandanin ini calon pengantin pake baju adat Bugis yang indo botting-nya (red: penata rias adat Bugis) sakit dan gak bisa dateng. Hahahahahaha

Jadi sebenernya kembang di samping kepala itu harusnya diiket di atas, jubah itu sebenernya harus diiket di pinggang, dan masih banyak misplacement-misplacement lainnya. 😂😂😂

Dan malemnya, jam 12 malem lewat dimandiin sama nenek pake bedak ragi dicampur kembang sama daun pandan trus harus banget disiramin sama adek-adek sepupu (dan jumlahnya harus 7) yang masih perawan, biar katanya, cepet nyusul nikah. Dan itu dilakukan tengah malem di tempat jemuran. Dinginnyaaa!! Bbrrrr!!! Trus nenek wanti-wanti untuk nggak mandi di pagi hari akad besok, biar cantiknya gak luntur!

Tapi, justru itu sih serunya, secara saya Bugis Bandel, yang gak pernah tau apa-apa soal adat istiadat darah yang ngalir di tubuh ini. Hahahahaha, kodong!



Peranakan Bugis-Lampung, 


Dina yang mendewasa di Palembang

Tidak ada komentar:

Terima kasih sudah singgah. Tak perlu segan untuk menyanggah atau memberi tanggapan atas pikiran yang tercurah. Kalau ada yang ingin ditanyakan atau mengganggu pikiran bisa kirim DM ke @celoteholic ya!

Diberdayakan oleh Blogger.