Love Hurts


Nafasku tersengal-sengal. Sesak yang setara dengan berada di kepungan asap kebakaran hutan. Tapi tak ada asap, tak ada kebakaran, disini. Hanya ada sesak yang makin menjadi jika saja tak ku pelankan pacu paru-paru ini.
Setengah mati aku menahan air mata agar tak basah di wajah. Tapi percuma. Toh tetap jatuh juga pada akhirnya. Mengalir berderai-derai.

Drama kehidupan percintaanku memasuki bagian klimaksnya.
Dicampakkan dan terabaikan.
Tapi itu belum apa-apa…
Itu bukan apa-apa, jika kalian menggenggam kertas yang kuremas sekarang. Beberapa bagian bahkan basah oleh air mata. Sudah jatuh tertimpa tangga pula.

Sudah ditinggalkan kekasih, kini aku harus menerima kenyataanya bahwa temanku sendiri yang merebutnya. Sudah jatuh tertimpa tangga, tergelincir pula di lantai yang licin.

Sepucuk surat dari temanku datang. Teman? Kalau saja aku masih bisa memanggilnya teman…

Kak Zha…
I do love you, Kak. Dari awal aku kenal Kak Zha, aku selalu respek dan naruh hormat ke Kakak. Aku sayang kakak, aku sayang semua orang yang bantu aku ngelewatin masa-masa sulit saat kuliah dulu. Adanya Kak Zha di kost-an kita dulu, bener-bener bantu aku yang kesepian karena jauh dari keluarga, kesulitan dengan tugas-tugas kuliah, bahkan saat aku butuh teman cerita atau pelukan.

Please, Kak Zha… Jangan anggap aku jahat. Nggak sampai hati, aku merebut kebahagiaanmu. Aku nggak mau nyakitin siapa-siapa… Aku bersedia bersumpah, aku tidak pernah berniat mengambil kekasihmu… Aku bahkan tidak pernah tau, kalau kalian adalah sepasang kekasih, sampai setahun yang lalu, aku masuk di kantor ini, dan melihat kalian.
Kak Zha yang tau kan, gimana tergila-gilanya aku dulu dengan dia, saat masih kuliah dulu. Kakak tingkat yang baik, yang tampan, yang keren, yang nggak sombong, yang bahkan nggak pernah noleh ke aku. 
Kak Zha… Saat aku tau, kalian ternyata jadian, aku seperti… "Oh… Gitu… Okay." dan mencoba menghadiahi pelukan sendiri. Ingin marah pun, aku tidak ada hak. Kak Rizal memang milik semua orang sampai ia memilihmu untuk menjadi pemilik resminya. Aku seperti blank dalam beberapa hari itu. Cemburu? Iya. Terungkapkan? Tidak. Aku bahkan bukan siapa-siapa di matanya.

Aku udah coba, Kak Zha… Demi Tuhan, aku udah coba untuk mencoba bersikap biasa aja. Membunuh semua rasa yang pernah aku rasain buat dia. Aku udah coba, Kak Zha…Tapi aku sendiri nggak tau kenapa aku bisa jadi sebodoh ini… Aku nggak tau, kenapa aku masih sayang dan ngarepin dia, sampai detik ini juga…. Aku nggak bisa bohong sama hati aku sendiri… Aku nggak bisa bohongin hati aku, Kak…
Aku terbiasa dengan mengeskpresikan semua yang aku rasain. Sedih, senang, sesal… Aku nggak pernah nutup-nutupin… Nggak pernah bisa nutup-nutupin, lebih tepatnya. Aku nggak pandai disitu… Termasuk nutupin perasaan aku sama dia…

Ini hatiku, Kak… Bukan, tombol switch on/off di smartphone. Yang bisa distel sesuka hati. Yang bisa dihidup-matikan sesuka kehendak orang-orang. Aku nggak bisa begitu aja madamin perasaan aku terhadapnya. Aku juga ngga bisa begitu nyari-nyari alasan untuk membencinya.
Karena untuk mencintainya sampai detik ini pun, I have no reason.

Mungkin kita punya alasan yang sama, kenapa bisa jatuh cinta pada pria yang sama ini. 

Falling in love unconditionally.



Do we need a reason to love him? Because I don't have one… I just… did.

Dan begitu aku tau kalau kalian jadian, aku nggak pernah sekalipun ganggu Kak Rizal. Bahkan setelah Kak Zha ngenalin dia ke aku dan ngenalin aku ke dia. Aku nggak pernah buat kontak mata lebih dari 5 menit dengannya. Aku bahkan nggak pernah komunikasi ke dia, baik itu lewat LINE, BBM, WA atau segala aplikasi sosmed yang ada, apalagi SMS atau telpon.

I know… You must really hate me, I'm a bitchy witch for you. Kakak pasti bakalan benci banget sama aku…. Mau aku ngomong apapun, Kakak tetep nganggep aku orang yang gak tau diri, yang ngebales semua kebaikan Kakak dengan pengkhianatan seperti ini…Yang pengen banget Kakak labrak di depan umum karena udah ngerusak hubungan Kakak dengan Kak Rizal. Yang Kakak pernah manjain dulu kalo aku lagi homesick sama Bunda di rumah. Yang selalu Kakak anggep anak kecil tiap aku numpang tidur ke kamar Kakak, kalo hujan dan geledek lagi bersahutan di langit Bandung malam itu.

Tapi aku bukan anak kecil lagi, Kak Zha…Aku sekarang ini adalah seorang gadis yang punya perasaan, dengan umur yang nggak beda jauh dengan kalian.

Aku juga tau, kedepannya, hubungan ini nggak akan pernah mudah. Walau sekarang, aku lagi mengalami masa-masa yang indah, kedepannya, aku juga bakalan patah hati, Kak. Aku bakalan nangis juga. Aku bakalan meratap juga. Karena aku memulai bahagiaku saat orang lain meneteskan airmatanya karena hal itu…

Tapi entah kenapa, aku kaya nggak mau denger itu semua. Aku nggak mau denger semua hal-hal yang jelek dan negatif tentang Kak Rizal. Tentang aku. Tentang kami yang dibicarakan orang-orang. Mungkin bukan sekarang, mungkin nanti, saat memang waktunya, saat memang aku harus ngeliat realita dan sadar, bahwa Kak Rizal nggak sebaik yang aku kira selama ini. Saat Tuhan mengembalikan logikaku di alam sadar.

Aku ngerti, kalian punya masa lalu.

Aku paham, kalian punya kenangan dan apapun itu, aku nggak pernah ngusik dan nggak pernah mau ikut campur….Aku nggak tau dan nggak mau tau, gimana hubungan kalian dulu, dan aku nggak mau nyangkut-pautin segala perasaan kalian dulu dengan hubungan aku sekarang...

Please Kak Zha… Aku beneran tulus minta maaf, kalau ternyata selama ini, Kak Zha belum puas ngungkapin marah dan keselnya sama aku. Aku selalu siap kalo Kak Zha butuh ngomong atau ada hal yang belum selesai.
Begitu pun dengan Kak Rizal, aku nggak akan ikut campur kalau memang Kak Zha masih ada urusan yang perlu diselesaikan dengannya, dan tolong, jangan libatin aku dalam masa lalu kalian.

Aku mungkin jahat di mata, Kak Zha…
Aku mungkin evil. Aku mungkin antagonis yang seolah ngerebut semua kebahagiaan si protagonis seperti di film-film drama yang aku tonton selama ini… Aku terima, aku terima betul semua tuduhan dan predikat itu melekat atas diri aku, Kak Zha…

Aku sendiri pun nggak tau harus memilih peran apa atas scene drama dan skenario yang Tuhan beri dengan tiba-tiba dalam hitungan hari.
Aku disuruh milih jadi bawang putih atau bawang merah dengan kebahagiaan aku yang jadi taruhannya.
Aku nggak bisa milih, Kak Zha. Aku nggak mau munafik dengan mungkirin semua rasa di hati aku atas Kak Rizal. Tapi aku juga nggak mau nyakitin Kakak… 
I do really love you, sist…

Aku beneran bingung. Aku beneran kalut. Aku beneran panik.
Aku nggak bisa lihat mata Kak Zha setiap kita ketemu, tapi aku juga nggak tahan dengan pandangan mata Kak Rizal tiap dia melihat ke dalam mata aku…

Kak Zha, please, help me…

Let the time heals everything. We just need give more time.


with love,

Arinda 



Love Hurts Yiruma mengalun lembut dari pemutar musik dalam laptopku. Ya, cinta itu menyakitkan. Bukankah seperti itu kalimat bijak yang sering aku ulang-ulang dahulu? Saat mencoba mencintai, dan memberi peluang untuk terluka lebih dalam lagi. 

Jatuh cinta berulang-ulang. Dan tersakiti, sedalam-dalamnya hati.
Aku butuh pil tidur sekarang. Mungkin mimpiku lebih indah dari kenyataan yang kujalani sekarang.

Ya, time will heal everything. Just give it more time.



Palembang, 14 Januari 2014

Tidak ada komentar:

Terima kasih sudah singgah. Tak perlu segan untuk menyanggah atau memberi tanggapan atas pikiran yang tercurah. Kalau ada yang ingin ditanyakan atau mengganggu pikiran bisa kirim DM ke @celoteholic ya!

Diberdayakan oleh Blogger.