#1Hari1Ayat Hari ke-2 (QS. Thaha: 132)


January, 2nd, 2014




"And enjoin prayer upon your family [and people] and be steadfast therein. We ask you not for provision; We provide for you, and the [best] outcome is for [those of] righteousness."

Diambil dari Al-Qur'anul Kariim, Surat Taahaa ayat 132.

Seperti biasanya, membuka dan membaca secara acak. Dan terpakulah pada ayat ini. Ayat pendek ini. Ayat yang di dalamnya ada sebuah jawaban dari se-mu-a masalah rumah tangga dan kehidupan manusia.

"Dan perintahkan kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya, kami tidak meminta rizki kepadamu, Kamilah yang memberi rizki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa”.

Mendirikan shalat itu tak semudah bergerak beraturan 5 kali dalam sehari.
Tidak semudah menyucikan diri dan berdoa membaca kalam Ilahi.
Tidak semudah mengucap salam dan memutar kepala ke kiri dan kanan.

Kita pernah sadar nggak, kenapa selalu solat yang Allah tekankan dalam kalamnya? Dalam perintahnya? Dan rukum iman keduanya setelah syahadat?

Pernah dulu dapet kajian seperti ini:
"Jika shalatnya baik, maka baiklah urusannya. Jika shalatnya buruk, maka buruklah semua (kehidupan) nya. "
ataupun kisah ini:
"Ada seorang penjahat yang selalu melakukan kejahatan, tapi rutin mengerjakan shalat. Disisi lain, ada seorang penggiat sosial, bersikap baik dan selalu membantu umat manusia, tapi tidak pernah menjalankan ibadah shalat. Mengapa bisa seperti itu?"
Jawaban yang saya dapatkan adalah: (sesimpel ini)
"Penjahat itu bisa menjadi jauh lebih keji jika ia tidak shalat. Dan penggiat sosial itu bisa menjadi jauh lebih baik jika ia melaksanakan shalat."

“Yaa Muqollibal quluub tsabit quluubana ila diinika”.
Wahai Dzat Yang Maha Membolak-balikan hati ini tetapkanlah kami dalam Agama-Mu

Bukan cuma soal tepat waktu atau tidak saat melaksanakan solat, yang menyiratkan kedisiplinan.
Bukan cuma soal khusyuk atau tidaknya saat melaksanakan solat, hingga ia bisa fokus atau tidak dengan goal-goalnya.
Bukan cuma soal cepat atau lambat, atau berapa banyak rakaat.

Bukankah shalat, lebih luas daripada itu maknanya?
Dari sejak berniat, bertakbir, beralfatihaah, bertahmid, merukuk, bersujud, sampai salam pun, ada makna yang Allah ingin manusia pelajari dan ambil hikmahnya.

Kalaupun nabi saja mengira kita takkan sanggup menjalani 50 KALI SHALAT dalam sehari, mengapa 5 kali perintah ini kita lalaikan berkali-kali? Jika bukan karena Rasulullah SAW, mungkin tak akan lepas hidup kita dari shalat sehari-hari.

Tapi makin kesini tampaknya pendidikan tentang shalat tak penting lagi. Atau mungkin telah bergeser makna dari sebuah pendidikan agama?

Agama bukan hanya mengajarkan kepada anak bahwa Allah itu Tuhan, Malaikat itu ciptaannya, pun dengan nabi dan manusia. Lalu mengenalkan ke anak, manusia pertama ialah Adam as. dan nabi terakhir adalah Rasulullah SAW.

Jikalau semua keluarga berfikiran selesailah semua urusan sampai disitu, maka memerintahpun tak kan ada gunanya lagi saat anak melihat, ayah ibunya yang menyuruh shalat pun kadang lalai mengerjakannya. Alangkah celakanya keluarga yang tidak pernah mengecap nikmatnya berjamaah di subuh hari, atau saling membangunkan di tengah malam.

“Robbij’alnii muqiimas sholati wa min dzurriyatii Rabbana Taqobbal Du’aa”.
Ya Allah Ya Rabb ku, jadikanlah aku dan keluargaku orang yang mendirikan sholat, Ya Robb kabulkan lah do’a ku.


Shalat bukan perkara mudah untuk didirikan.
5 menit waktu pengerjaannya butuh 5 tahun untuk mengajarkan kepada anak yang balita, bahwa jika ia sampai di umur ke-7-nya ia belum memiliki kesadaran shalat, maka hukuman lah yang akan dia terima.
Tidak mudah menyampaikan kepada anak yang setiap harinya menghabiskan hidup di depan layar, bahwa ketenangan sejati hanya akan ia dapat di dalam sujud panjang dan tangisan di atas sajadah.
Tidak akan pernah mungkin kedua orang tua menjadikan amanah Tuhan mereka berupa anak, untuk dikenalkan kepada sang Pemberi Nyawa jika mereka sendiri pun, tak mampu mengenal Tuhannya sendiri karena sibuk mencari rizki?


Dan bukankah sudah ALLAH ingatkan kembali, bahwa hanya IA yang memberi rizki kepada kita, bukan kita yang memberi rizki kepadaNya??

Maka ingatkan saya, tolong ingatkan saya, ketika saya lupa, jika hidup ini hanya sementara, dan hanya dunia akhir yang akan abadi selamanya…



“Robbana la tuzigh quluubana ba’da idz hadaitana wa hablana min ladunka rohmah , innaka Antal Wahaab”.

Ya Allah Ya Tuhan kami janganlah Kau palingkan hati ini setelah datangnya petunjuk ini kepada kami dan berikan lah kami dari kasih sayang-Mu, karena sesungguhnya hanya Engkau lah Yang Maha Pemberi.

SAKJJASJASJASASJASASQ

Tidak ada komentar:

Terima kasih sudah singgah. Tak perlu segan untuk menyanggah atau memberi tanggapan atas pikiran yang tercurah. Kalau ada yang ingin ditanyakan atau mengganggu pikiran bisa kirim DM ke @celoteholic ya!

Diberdayakan oleh Blogger.