Semanis Wangi Kue

Ada hal-hal yang mungkin tak bisa kamu terima dengan nalar logikamu, hanya karena kamu merasa, kamu adalah korban. Begitu banyak hal yang tak mungkin kamu ikhlaskan saat hatimu yang merasakan sakit…

Ada begitu banyak hal yang tak terucap, berkecamuk dalam alam sadarmu, tapi hanya sebatas fikir. 
Perlahan mendenyut selayaknya titik nadir…


==

Pelukan kencang dari Fera menghentikan Ina sejenak dari kegiatannya, memanggang cupcake. Tersenyum, mengenali bahwa Fera yang ada dibalik punggungnya.

Setelah mengatur suhu, waktu dan menutup oven, Ina berbalik. Punggungnya basah, karena air mata Fera.
"Duduk dulu yuk…", ajaknya lembut sambil menuntun Fera ke arah meja di tengah ruangan.
"Mau teh vanilla?"
Fera mengangguk. Teh vanilla buatan Ina itu juara enaknya. Se-juara semua kue buatannya. Mana mungkin bisa menolak? Sementara kedai kopi dan teh waralaba menjualnya dengan harga puluhan ribu. 
"Na… Aku capek begini terus…"
Ina tersenyum menoleh sambil mengaduk pelan isi cangkir teh yang sedang diraciknya. 
"Terus-terusan mencintai seseorang yang bahkan tak melihat keberadaanku lagi.", air matanya kembali jatuh.
"Aku pun takut… Takut semua mitos dan omongan orang jadi kenyataan. Karena sudah terlalu sering aku menolak pinangan lelaki baik… Aku takut menjadi gadis tua seperti yang orang-orang itu bilang…"
Tangannya menghangat, menggenggam cangkir yang baru saja disodorkan oleh Ina.
"Jodoh itu Allah yang atur, sayang… Iya, para lelaki itu memang baik, tapi mungkin tak sebaik itu untuk menerima kenyataan dari sisi terburukmu. Menikahlah di saat yang tepat. Saat terbaik yang Allah sudah tetapkan. Bukan karena takut kutukan atau omongan orang lain…"
"Tapi hati ini masih cendrung mengharapkan Reza, Na… Masih berharap entah pada apa. Masih terlalu besar cinta ini untuknya, jika aku harus menikah dengan orang lain…"
"Semoga Allah jaga Reza ya, untukmu… Semoga Allah jaga imannya, semoga Allah jaga hatinya, semoga Allah jaga Reza untukmu kini… dan nanti. "
Pandangan mata Fera mengabur. Penuh oleh air mata yang mengambang di pelupuk, menanti untuk jatuh. Tak pernah kering air matanya jika menangisi Reza, lelaki yang pernah berjanji membahagiakannya sampai mati.
"Aku yang menuntutnya untuk bekerja keras. Aku yang memintanya untuk 'punya nama' sebelum ia datang ke hadapan ayah dan bunda untuk memintaku… Dan aku yang menciptakan lingkaran setan pekerjaan itu dalam hidupnya. Menenggelamkan Reza dalam rutinitas pekerjaan tanpa henti…"
Dielusnya perlahan punggung Fera. Mencoba menyalurkan kekuatan yang mungkin sia-sia. Sudah setahun lebih sejak Fera dan Reza berpisah, tapi sedihnya, tak sudah-sudah.
"Tenang, Fera… Tenangin diri dulu… Bukan karena kamu, dia jadi begitu. Bukan karena kamu. Istighfar, sayang… Allah yang atur semuanya…"
Isak tangisnya masih lirih.
"Udah coba solat taubat belum, kamunya?"
Fera menggeleng.
"Biar kamunya tenang… Tenang dari rasa bersalah."
"..."
"…"
"Banyak yang sering bilang ke aku. Reza sekarang begini, Reza sekarang begitu… Aku tau, Reza nggak seburuk yang mereka kira… Ingin rasanya aku teriak ke mereka, 'STOP!' Berhenti menjelek-jelekan Reza di depanku. Karena aku tau… Reza tidak seburuk itu…"
"Ungkapkanlah. Lindungi hati dan doa tulusmu untuknya…"

Wangi kue aroma coklat menyeruak. Memenuhi ruangan.

"Bunda bahkan ketakutan atas segala sikapku ini, Na… Bunda takut penolakan-penolakan ini adalah runtutan dari semua peristiwa masa lalu. Sampe nggak bisa suka sama siapapun yang datang mendekatiku."
"Jangan terlalu larut, sayang… Ini cuma persoalan fikiran kok. Alihkan fokus. Alihkan. Jangan sampai kamu dzolim sama diri sendiri… Kamu pantas dicintai oleh siapapun.
"Tante Aini bilang, ini karma. Dia bisa tau hal-hal tersembunyi tanpa perlu aku ungkapkan. Ini karma atas penolakan yang pernah kulakukan di masa lalu. Dia Bian, Na… Bian yang kutolak mentah-mentah 5 tahun yang lalu. Saat aku masih suka seenaknya berucap dan bersikap."
"Ya Allah…"
"Bian pasti sakit hati dengan penolakanku dulu. Dan ini balasannya, saat aku harus merasakan bagaimana sakitnya Bian dahulu…"
"Kalau aku boleh saran… Lakukan amalan sunnah yang bisa kamu jalankan rutin. Dengan doa yang sama. Berulang-ulang. Shalat, mungkin."
"Tahajud?"
"Bisa jadi…"
"Kalau aku berdoa supaya Reza tepat janjinya kepadaku dulu, boleh?"

Ina tersenyum. Cinta benar-benar luar biasa efeknya. Panca indra ke-7 yang mampu meluluhlantakkan ke-6 indra lainnya, membuat seseorang begitu non-sense. 

"Berdoa minta ketenangan dulu, sayang… Saat jiwa kamu tenang, doamu akan lebih tulus terangkat, akan lebih ikhlas terucap… Bukan karena pamrih atau sakit hati atas janji masa lalu."

Fera menutup mulutnya. Matanya kembali berkaca-kaca.

"Minta ketenangan hati dan batin. Minta Allah tunjukkin hikmahnya, minta Allah karuniain kesabaran tiada berbatas. Minta Allah anugrahin keikhlasan kalo memang semua runtutan cerita ini jadi ending yang menyedihkan untuk menghapus semua dosa-dosa kamu di masa lalu…"

Tercekat. Fera sulit menelan ludahnya. Terlebih beberan kenyataan yang Ina sampaikan barusan.

"Selama ini, kamu selalu jadikan diri kamu sebagai obejk derita karena perlakuan Reza. Sementara, ada seseorang lain yang mungkin tersakiti dengan kamu sebagai pelakunya, sebagai subjeknya… Dan kamu nggak sadar akan hal itu…"
"Ya Allah…"
"Mungkin kegalauan akutmu karena Reza ini bentuk lain dari kegundahan batin kamu sendiri. Merasa menyakiti tapi tak tau kepada siapa harus mengucap maaf…"
"Haruskah aku meminta maaf kepadanya?"
"Selagi bisa, kenapa tidak? Tidak akan berkurang kemuliaan seseorang hanya karena meminta maaf duluan. Jadikan pelajaran, Fera… Semua interaksi kita dengan makhluk Tuhan lainnya adalah rancanganNya. Nggak ada yang sia-sia. Baik, buruk, tua, muda, jahat, ataupun tidak itu semua adalah cara Tuhan untuk mengajari kita sesuatu.
Sependapat atau tidak kita dengan seseorang, mereka tetap berhak menerima senyum termanis kita. 
Jangan sampai, hanya karena pandangan menuduh dari kita, seseorang menyimpan luka di hatinya. Kita bukan Tuhan. Tugas malaikat pun hanya mencatat. Bukan men-judge."


Fera menangis, tersedu sedan.

"Allah selalu punya cara. Allah selalu punya cara mendewasakan kita."
"Apa Reza memang bukan jodoh aku, Na? Sampai Allah pisahkan sekarang..."
"Kita nggak pernah tau rahasia Tuhan, Ra. Nggak pernah, dan nggak akan pernah bisa. Berjodoh di dunia mungkin terpisah di akhirat. Terpisah di dunia, bisa jadi kekal di akhirat."
Berdoalah sungguh-sungguh. Meminta ampun atas semua kesalahan yang pernah kamu lakukan dan membuat orang lain sakit hati. Sesungguh-sungguh doamu meminta Reza untuk jadi pendampingmu."
"Apa aku masih pantas meminta, Na?"
"Jangan anggap dirimu setan, hanya karena pernah terbujuk rayuan."
"Apa aku bisa mendapat jawaban dari semua persoalan ini?"
"Allah akan tunjukkan. Pasti. Allah selalu punya cara untuk menjawab doa hamba-hambaNya. Karena jarak antara masalah dan solusi, hanya sejauh jarak antara dahimu dan tempat sujudmu. Semakin dekat, maka semakin cepat Allah tunjukkan jalan keluar."
Air mata masih jatuh bergulir di pipinya Fera. Tapi kini ia tersenyum.

Manis sekali senyumnya. Semanis kue yang kini sudah matang.



Palembang, 20 Februari 2014








Fatih & Fera dalam potongan puzzle ke-5

Tidak ada komentar:

Terima kasih sudah singgah. Tak perlu segan untuk menyanggah atau memberi tanggapan atas pikiran yang tercurah. Kalau ada yang ingin ditanyakan atau mengganggu pikiran bisa kirim DM ke @celoteholic ya!

Diberdayakan oleh Blogger.