Sesak Dada Pertama



Pias wajahku saat melihat Fera terbaring lemas di pelukan Kak Ina. Wajahnya merah dan sangat terlihat susah payah untuk bernafas. Yang aku ketahui saat itu bahwa asmanya kambuh, karena menghisap debu saat kami membersihkan ruangan yang telah dipakai untuk acara seharian tadi.

Cemas, aku turut melihat di balik badan teman-temannya. Memastikan bahwa ia baik-baik saja, tidak lebih parah dari ini.

Tapi tiba-tiba Bang Iyan datang, meraih kedua kaki yang ia bilang dingin, dan memijitinya. Aku membuang muka. Tapi tersadar bahwa ini adalah usaha untuk mencoba memulihkannya, maka aku arahkan lagi mataku melihatnya, melihat ia yang masih terbaring lemas tak berdaya. Tapi makin kulihat, makin geram rasanya melihat tangan lelaki lain menyentuh bahkan memijitinya.

Untunglah adzan segera datang. Sekilas kutitipkan sebotol kayu putih pada Lia untuk menggantikan posisi Bang Iyan memijitinya.
Kutarik Bang Iyan dengan gemas untuk mengajaknya berjamaah di Mushola belakang.

Sesak ini harus kuredam.
Semoga pembicaraanku kepada Tuhan di shalat nanti bisa memberikan jawaban atas apa yang kurasakan sekarang.





Fatih & Fera dalam potongan puzzle ke-2

Tidak ada komentar:

Terima kasih sudah singgah. Tak perlu segan untuk menyanggah atau memberi tanggapan atas pikiran yang tercurah. Kalau ada yang ingin ditanyakan atau mengganggu pikiran bisa kirim DM ke @celoteholic ya!

Diberdayakan oleh Blogger.