#30HariMenulisSuratCinta - Pulang


Sudah 2 kali Ibu menelponku hari ini. Meminta aku untuk segera pulang.
Belum genap seminggu aku meninggalkan rumah. Tapi orang-orang di dalamnya sudah begitu kehilangan.
 

Ini bukan pertama kalinya aku pergi. Sudah 10 tahun, nyaris, aku merantau dan hidup sendiri. Tanpa keluarga, tanpa saudara, dan tanpa aturan. Hanya aku dan aku.

Bisa dikatakan cukup-sering-pulang, bahkan selalu dipertanyakan, apakah sudah lulus atau bekerja di kampung halaman? Karena mungkin, di jaman ayah ibuku dulu, perihal merantau, selalu menyisakan kerinduan dan keabsenan dalam setiap acara keluarga. Tapi tidak dengan jaman sekarang. Sarana transportasi sudah banyak pilihan. Pun dengan biaya yang bisa disesuaikan. Terlebih, aku hanya merantau ke kota sebelah, ke provinsi tetangga yang 9 jam perjalanan darat jauhnya.

Dulu, saat umurku masih 16 tahun, dan terpaksa (dan bersemangat) untuk hidup sendiri, keinginan untuk pulang selalu muncul saat ada libur panjang. Libur yang 3 hari saja sudah cukup panjang untuk dijadikan alasanku untuk pulang. Libur Jumat-Sabtu-Minggu atau libur Sabtu-Minggu-Senin, atau bolos sehari diantaranya pun tak apa menurutku. Nyaris 3 bulan sekali aku menyapa penjaga loket atau masinis kereta yang entah mengapa selalu berbeda setiap aku menaikinya.

Perjalanan pulang selalu punya cerita mengesankan. Selalu ada cerita yang kadang aku bagi di sosial media, tapi kebanyakan aku simpan sendiri di kepala.
Perjalanan pulang selalu memberi kesempatan untuk bercengkrama dengan orang asing yang aku temui pertama kalinya dan mungkin untuk terakhir kalinya.

Tak jarang, berat hati melangkah saat pulang karena masalah. Oh, rasanya ingin membelah bumi lalu bersembunyi di dalamnya. Pulang tak lagi menyenangkan. Sebanyak apapun oleh-oleh yang kamu bawa, sebanyak apapun rindu yang membuncah, tak pernah bisa bibir membentuk senyum dan suara mengeluarkan tawa. Pulang tak lagi menyenangkan, saat kamu tau, ada yang terluka dan kecewa karena tindakan lalaimu.

Tapi entahlah. Apapun itu cerita, apapun itu alasannya, apapun itu yang menunggunya, pulang akan selalu aku rindukan.

===

Langit Palembang mendung siang ini.
Tapi tak mengapa, satu tiket kereta sudah atas namaku.
Itu pun cukup. Cukup untuk membuat senyumku cerah.



dari bangku 6 A bersama asisten masinis 'lucu',

dalam kepulangan ke-sekian-kali-nya ke rumah.






Tidak ada komentar:

Terima kasih sudah singgah. Tak perlu segan untuk menyanggah atau memberi tanggapan atas pikiran yang tercurah. Kalau ada yang ingin ditanyakan atau mengganggu pikiran bisa kirim DM ke @celoteholic ya!

Diberdayakan oleh Blogger.