2015



Epilog Fera

Tuhan tak pernah dzalim. Ia selalu berlaku adil.
Tuhan tak pernah tidur. Ia menyaksikan saat hatiku hancur dan lebur.

Hasbunallah wa'nimal wakil ni'man maula wa ni'man nasir….

Kobaran api membesar seiring berubahnya menjadi abu kertas-kertas undangan yang terbakar.


***


Epilog Fatih

Palembang.
Akhirnya aku disini, kembali lagi menikmati kota tanpa adanya pantai dan pegunungan seperti disana.

Menikmati kembalinya berkumpul bersama teman-teman yang sudah 2 tahun ini tak pernah kutemui karena kesibukan pekerjaan.

Dan disana juga ada Fera…. tanpa calon suaminya.

Tenggorokanku tercekat.





Fatih & Fera dalam potongan puzzle ke-7

Tidak ada komentar:

Terima kasih sudah singgah. Tak perlu segan untuk menyanggah atau memberi tanggapan atas pikiran yang tercurah. Kalau ada yang ingin ditanyakan atau mengganggu pikiran bisa kirim DM ke @celoteholic ya!

Diberdayakan oleh Blogger.