#30HariMenulisSuratCinta - Kepada Adik yang kupanggil Kakak


Dear Teta,

Sudah lama kakak tidak menulis tentangmu.
Tentang dirimu yang banyak memberi pelajaran dan selalu memberi peringatan. Hanya dengan bergaul denganmu saja, kakak merasa surga itu terasa indah bila dimasuki beramai-ramai bersama orang-orang sepertimu.

Sudah berapa banyak percakapan BBM dan WA kita yang terlewat begitu saja.
Padahal dulu, sekiranya kakak rajin sekali menyimpannya, mengarsipkannya dalam email, hingga suatu saat kakak buka kembali, entah itu untuk mengingatkan diri sendiri, atau menghanyutkan diri dalam memori.
Empat tahun mengenalmu itu selalu dipenuhi keindahan. Tunggu. Sepertinya lebih dari 4 tahun, tapi kita bulatkan saja menjadi 4 tahun.
Empat tahun yang penuh suka cita, dan air mata. Penuh cerita dan tawa bahagia. Penuh senyum yang manis atau suara tangis. Penuh foto-foto selfie kita dan gelak tawa sesudahnya.
Penuh orang-orang yang baik yang juga membawa kebaikan yang lain. Menularkan bahagia ke orang lain. Menjadikan keluarga bagi mereka yang awalnya terasing.

Pun kakak. Bahagia bisa menjadi dekat dengan Teta dan keluarga. Menjadi dekat dengan Allah dan Allah makin mendekatkan kita.


 





=====


Dear Teta,

Adik manis yang perlahan menjadi wanita dewasa.
Tanda kedewasaannya pun Tuhan torehkan dengan tidak main-main.
Penuh air mata dan kengiluan hati dimana-mana. Tapi karena kamu telah dewasa, luka yang dulu bisa membuatmu sesak di dada, toh sekarang tidak terasa sebagai apa-apa.

Teta bisa melewati 2015 yang penuh tangisan dimana-mana. Tanpa kakak yang selalu mendengarkan cerita Teta seperti tahun-tahun sebelumnya.
Dan kakak bangga, Teta bisa ternyata.
Bisa menjadi wanita dewasa seperti yang Teta idamkan sejak lama.
Walau masih jauh dari figur wanita idaman kita, Khadijah ra. Setidaknya, Teta harus tau, bahwa Teta lahir dari rahim seorang wanita luar biasa yang juga mempunyai garis keturunan yang hebat. Sedikit demi sedikit, Teta pun akan jadi sekuat Ummi nantinya. Yakinlah.

Maafkan kakak, yang mungkin terlalu sibuk dengan diri sendiri, hingga lupa menanyakan kabar. Maafkan kakak kalau hanya menyapa saat kita bertemu dalam acara.
Tuhan mengaitkan kita di penghujung tahun kemarin pun bukan tanpa alasan. Yang jelas, rasa syukur itu ada, saat bisa melihat Teta tertawa lagi setelah banyak melewati hari penuh tangis tanpa kakak ketahui.

Adik kakak yang manis,
Jadilah kuat dengan cinta.
Walau seringnya, cinta itu sendiri yang melemahkan kita.
Tapi bukankah vaksin imunisasi berisi penyakit yang (sudah) dilemahkan lalu menjadikan kita kuat, kebal oleh penyakit yang sama. Begitu pula cara kerjanya luka.

Percayalah, 2016 dan dua ribu selanjutnya-selanjutnya, akan penuh kebahagiaan dengan rasa syukur yang Teta ambil hikmahnya dari tahun-tahun sebelumnya.

Terima kasih untuk selalu menganggap kakak sebagai kakak, karena tanpa sadar, Teta sendiri yang menjadikan kakak sebagai seorang yang bijak. Bisa menjawab dan membicarakan persoalan hidup apapun, padahal, jika harus menghadapinya seorang diri, kakak pun lemah lunglai tak berdaya.
Tapi bukankah itu gunanya teman? Menguatkan, dan mengingatkan jika kita salah mengambil jalan.

Jangan lupa bersyukur, Sayang.


Tertanda,


Kak Dina yang bersyukur memiliki Teta.







Tidak ada komentar:

Terima kasih sudah singgah. Tak perlu segan untuk menyanggah atau memberi tanggapan atas pikiran yang tercurah. Kalau ada yang ingin ditanyakan atau mengganggu pikiran bisa kirim DM ke @celoteholic ya!

Diberdayakan oleh Blogger.