Karena di Hadapan Waktu, Gengsimu Hanya Menjadi Abu


Senin yang sendu, mengharu biru di semua lini masa media. 


Telat sekali, saya membaca beritanya di jam 11.25 siang, sementara berita #LIONAIRJT610 sudah banyak keluar dari 2 jam sebelumnya. 
Berita tentang #JT610 terlalu menyesakkan dada bagi siapapun yang melihat, mendengar atau sekedar membacanya. 
Merinding sekali membayangkannya. Tentang para pekerja yang akan kembali melaksanakan kewajibannya, tentang keluarga yang baru saja kembali dari pesiarnya, tentang para ibu yang baru saja mengunjungi anaknya. Tentang para lelaki, kepala keluarga yang tak kan pernah kembali berkumpul dengan anak istrinya. 

Duh Rabbi… Betapa sendunya hari ini. 


Saya ikut menangis terisak-isak di meja klinik ketika melihat video ratusan keluarga korban datang dan memenuhi bandara. Wajah lelah penuh tangisan dengan mata yang masih menyimpan secercah harapan. 
Memang, tidak ada yang saya kenal dalam deretan nama penumpang di dalamnya, tapi tetap saja, kehilangan itu begitu terasa. Ada 2 bayi, 1 anak-anak dan 185 orang di dalam sana. Di dalam burung besi yang baru 13 menit saja mengudara, bahkan seatbelt pun masih mengikat erat di pinggang mereka, lalu terjatuh, tanpa persiapan, tanpa aba-aba, tanpa ada yang menduga, menghantam perairan dengan kecepatan yang meninggi. 

Innalillahi wa innailaihi roji'un...


Kehilangan tak pernah meninggalkan kesan yang menyenangkan, terlebih ketika semua terjadi tanpa ada ucapan perpisahan. Masih ngilu rasanya di ulu hati kalau melihat update berita #JT610 : mereka yang kehilangan dan para korban yang belum ditemukan. Bahkan Bu Sri Mulyani, Menteri Keuangan, wanita paling rasional dan pintar yang saya kenal, pun tak sanggup menahan tangisnya di depan awak media ketika ditanya perihal 12 pegawai Kemenkeu yang masuk dalam daftar penumpang #LIONAIRJT610.


Saya memeluk Dilan erat sekali saat membaca berita itu, betapa Tuhan mudah sekali mencabut kebersamaan kami yang hanya singgah di dunia ini. Saya cemas seketika memikirkan suami yang sedang bekerja di tempatnya. Semoga Tuhan menjaganya, semoga Tuhan melindunginya. Berharap kami masih bertemu sepulangnya nanti. 
Betapa mudah sekali bagi Tuhan menjadikan semuanya tiada ketika kita merasa semuanya baik-baik saja, ketika kita merasa semua sudah berjalan sempurna seperti keinginan kita. 


Mulut saya tak henti berdoa semoga masih ada keajaiban yang Tuhan selipkan dalam bencana ini, entah bagaimana mukjizatNya, tapi besar sekali harapan saya untuk mendengar adanya penumpang yang selamat, walau 1 dari 1.000.000 kemungkinan.

Tapi kejadian terburuk bagi kita, mungkin yang terbaik yang telah Tuhan tetapkan. 
Ini takdir terbaik yang Tuhan tetapkan atas mereka. Sebuah tiket langsung ke surga yang Tuhan berikan cuma-cuma, penuh kejutan. Sebuah harga kehilangan yang terbayar tunai saat keluarga mengikhlaskan. Karena tiket ini terbatas jumlahnya dan tidak semua manusia bisa memilikinya. 

Tiket bypass yang hanya Tuhan berikan kepada mereka yang pantas. 

Jadi, seketika bayangan saya menjadi indah sekali: satu keluarga kecil, ayah, ibu dan anak yang masih bayi, bersama sehidup semati, Allah anugrahkan khusnul khatimah kepada ketiganya, Allah hilangkan siksa kuburnya dan Allah kumpulkan mereka di surga-Nya saat Hari Pengadilan nanti.




Seketika saya menjadi begitu menghargai waktu yang tersisa. 
Saya berjanji dengan diri sendiri, untuk lebih sering memeluk mereka yang saya sayangi, untuk lebih sering mendengar mereka yang masih peduli, untuk lebih sering meluangkan waktu bagi mereka yang masih saya hargai. 
Untuk lebih terbuka mengungkapkan rasa, untuk lebih murah hati dalam memaklumi setiap kesalahan yang terjadi sebelumnya. Dunia terlalu singkat untuk kita penuhi dengan segala arogansi, kesombongan dan ketinggian harga diri karena gengsi. 

Umur tidak ada yang tau. Masa depan pun masih jadi rahasia paling tabu. 
Dan Tuhan tidak pernah bercanda ketika menciptakan reward-nya. 
Baik itu surga yang masih dianggap fana, ataupun neraka yang masih sering dijadikan ungkapan cela. 

Hari ini semesta mengingatkan, bahwa tiap-tiap manusia mempunyai batas waktunya di dunia. Bahwa batas antara hidup dan mati itu tipis sekali, hanya sekejap mata.




Lalu apakah kamu masih punya nyali, untuk menjalani hidup sesuka hatimu sendiri? 

3 komentar:

  1. Semoga Allah menerima amal ibadah dan mengampuni dosa mereka RIP JT 610

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin mbaaak, semoga Allah menguatkan para keluarga korban.

      Hapus
  2. Semoga segera terkuak juga penyebab jelasnya agar tak jatuh korban lagi di kemudian hari

    BalasHapus

Terima kasih sudah singgah. Tak perlu segan untuk menyanggah atau memberi tanggapan atas pikiran yang tercurah. Kalau ada yang ingin ditanyakan atau mengganggu pikiran bisa kirim DM ke @celoteholic ya!

Diberdayakan oleh Blogger.