Menjadi Ibu.

Jum'at, 22 Desember 2017


"Selamat atas kelahiran putranya ya, Dina. Semoga tumbuh sehat menjadi anak yang soleh, berbakti kepada orang tua, dan berguna bagi bangsa, negara, dan agama."

Waktu Dilan lahir, ucapan tersebut yang berkali-kali saya aamiini dan datang bertubi-tubi. Dari banyak teman, kerabat, saudara sampai mereka yang saya gak kenal pun, tapi tau tentang kelahiran ini, turut mendoakannya. Walau tidak persis sama, tapi inti dari doanya senada.

Selamat karena telah melewati fase bernama kelahiran tersebut.

Tapi tak ada yang menyelamati dengan kalimat,
"Selamat datang ke dunia baru ya, Dina. Dunia tanpa pause dan rewind. Dunia yang sama sekali baru dan kamu gak punya buku panduan manualnya. Dunia yang hanya bisa dijalani oleh manusia luar biasa sekelas superhero dari masa ke masa. Dunia yang bakal bikin kamu netesin banyak air mata dan air-air yang lain. Dunia tanpa jeda yang bisa bikin kamu gila kalau tak kuat di dalamnya. Dunia para Ibu baru, dengan segala keamatirannya. Selamat datang, Dina, selamat berjuang dan bertahan."

Harusnya sih, ada yang cukup tega ngingetin para ibu baru seperti saya untuk bersiap seperti itu dari sejak trimester ketiga. But, I dare you, orang macam apa yang tega nakut-nakutin ibu hamil dengan kehidupan pasca kelahiran sementara proses melahirkan untuk pertama kalinya saja sudah bikin gugup bukan kepalang?

Jadi, satu-satunya orang yang selalu jujur ke saya tentang hidup ini adalah ibu kandung saya sendiri. Beliau hanya bilang, "Punya anak mah lebih capek lagi, In... Apalagi Ibu juga kerja. Bukan lagi (capeknya)...", kata seorang nenek yang punya 3 anak dan masih awet muda, saat anak sulungnya ini mengeluh capek waktu hamil tua.

Ibu bilang, capeknya mengurus bayi baru lahir itu luar biasa, makanya, walau tidak pulang ke rumah orang tua, ibu bisa meng-handle itu semua dengan bantuan 2 dayang-dayang asisten rumah tangga. 

Ibu dengan jujur bilang, mengurus rumah, mengurus suami dan mengurus anak itu bukan perkara yang mudah untuk dilakukan secara bersamaan. Iya, ibu mengatakan itu kepada anaknya yang lusa akan keluar dari rumah sakit untuk kembali ke rumah dan mengemban 3 amanah utama itu secara bersamaan.

Memang sudah keputusan saya untuk tidak kembali ke rumah orang tua selama kehamilan dan setelah melahirkan, simply because, suami gak mau ditinggal sendirian. Pun, saya menolak untuk tinggal di rumah mertua, karena mertua saya sendiri masih aktif bekerja, tidak punya ART, dan kamar di rumahnya sudah penuh, takutnya hanya menambah beban dan membuat saya kurang leluasa buka tutup penutup payudara untuk menyusui Dilan.

Jadi, tinggallah kami, 3 manusia yang serba newbie dalam menjalani perannya, Ibu baru, Ayah baru dan manusia baru di muka bumi ini.

Dan sungguh, sebulan pertama pasca keluar dari rumah sakit itu... sulit dijelaskan dengan kata-kata, tapi mudah sekali untuk mengeluarkan air mata. :))

Terlebih setiap ditinggal suami kerja dan saya hanya berdua bayi di rumah. Sementara untuk menyewa helper/suster/ART harian pun, kami belum punya alokasi dananya.

3 hari pertama setelah keluar dari RS, semua masih serba enak, masakan ibu mertua masih penuh di kulkas, tiap lapar, bisa tinggal ngangetin doang. Kecuali sayur katuk yang harus dimasak fresh. Pun praktek memandikan Dilan, masih dipandu oleh ibu yang datang tiap sore hari, melihat cucunya.

Suami juga masih sigap sekali untuk membantu jika sedang tidak bekerja. Menyiapkan baskom mandi bayi dan air hangatnya, mencuci baju bayi dan baju kami, jadi tugas utamanya. Sementara saya yang sudah memaksakan berdiri dan berjalan H+36 jam pasca operasi caesar, harus kuat untuk memasak sayur katuk sendiri dan mencuci piring.

2 minggu setelah kelahiran, ada bantuan yang datang dari neneknya si bayi di Lampung. Ayah dan Ibu saya datang untuk membantu, sekaligus merecoki kedamaian dalam mengasuhanak yang penuh dengan hal 'suka-suka-saya'. Bakal saya bahas lebih lanjut di postingan lain.

Dan ternyata, setelah menjadi ibu, saya jadi paham. Ada toh, makhluk yang Tuhan ciptakan dengan kekuatan dan pikiran luar biasa sejenis ini. Tanpa pernah ada satu pun dari mereka mengelu-elukan kemampuannya atau meminta pelabelan khusus sebagai wanita luar biasa.

Saya jadi membuktikan, bahwa tanpa tidur yang nyenyak dan teratur pun, tubuh manusia gak akan jatuh sakit, malah makin terbiasa. Saya jadi tau, tidur selama 10 menit dengan nyenyak pun bisa sama kualitasnya dengan tidur 10 jam dan bangun-bangun bisa segar bugar.

Saya jadi tau, dalam satu hari itu bisa menjadi sangat berkualitas, saat seorang wanita bisa melakukan banyak hal dengan dua tangannya, dari pagi sampai malam, tanpa menghitung kelelahan yang diembannya.

Bangun pagi, mencuci piring, mencuci alat pumping, meletakan dalam sterilisator, mandi pagi, menyiapkan bak mandi bayi, memasak air hangat, mengeringkan alat pumping, memandikan bayi, mendandani bayi, meyusuinya, menidurkannya, membereskan bekas mandi bayi, mencuci baju kotor bayi, mencuci baju kotor ayah ibunya bayi, menjemur, membereskan kamar dan rumah, pumping untuk saving ASIP, bermain lagi bersama bayi, menyusuinya, menidurkannya, masak untuk suami dan diri sendiri, dan melakukan hal-hal lain di luar rutinitas tadi.

Untuk pumping sendiri, hitunglah tiap 3 jam sekali.

Jadi sangat wajar sekali, kalau waktu berjalan dan terasa begitu cepat. Baru rasanya pagi, kok sudah mau magrib lagi. Belum lagi drama malam hari, saat anak bayi terbangun karena mimpi buruk, lapar dan haus atau sekedar karena dia belum mengerti, kalau jam 3 dini hari itu waktunya tidur dan istirahat bukan waktunya bermain.

Perjuangan menahan kantuknya itu luar biasa. Kalau dulu, masih bisa dengan enaknya tidur suka-suka kita saat begadang ngerjain tugas kuliah dan bangun kalau udah agak enakan, sekarang mana bisa. 
Kalo si bayi bangun, dan gak kita temenin, dia bakal nangis meraung-raung minta diperhatiin.

Jadi gak susah kalau mau ngasih hadiah ke para ibu baru di seluruh dunia, cukup dengan membiarkan ia tertidur 6 jam tanpa jeda, bersama bayi yang tidur nyenyak di sisinya. Sesuatu yang nyaris tidak ada, sama seperti dengan keberadaan unicorn di dunia. :)

Kalau ada pepatah yang bilang, 'Sabar itu ilmu tingkat tinggi, belajarnya setiap hari, latihannya setiap saat, ujiannya sering mendadak, hasilnya baru bisa dilihat di akhirat', menjadi ibu, sudah paket lengkap untuk bisa menjadi sabar, ikhlas, kuat dan lembut secara bersamaan.

Dulu waktu belum melahirkan Dilan, saya gak tau mau jadi ibu seperti apa. Masih menebak-nebak. Masih menerka-nerka dan masih berkiblat dengan para ibu penggiat media sosial. Rasanya mereka bisa jadi role model saya. Rasanya, sempurna sekali kehidupan mereka sebagai seorang ibu. 

Sampai pada akhirnya, kenyataan meng-aur-aur-kan semuanya.
Bhay kehidupan ibu yang penuh bahagia dan (kelihatannya) mudah dijalani. 
Bhay update-update di socmed dengan foto saya dan anak bayi dalam satu frame. 
Bhay kegiatan kesana kemari yang kalo gak penting-penting banget, mending diem di rumah sama anak bayi.

Semua hal yang saya pelajari, simpan dalam memori, screenshot sana-sini, dan teori-teori yang menunggu praktiknya hingga kini, sama sekali gak tau bentuknya gimana di dalam kepala ini. Mana yang sudah saya jalankan dan mana yang menanti untuk dijalankan sudah tak jelas lagi. Belum termasuk dengan perbandingan, perdebatan, dan update ilmu terbarunya.



Katakanlah saya ibu yang serampangan. Bener-bener sesuka hati saya merawat dan membesarkan anak. Sebenernya bukan sesuka hati, tapi lebih ke arah: biarkan hati yang menuntun kamu bagaimana bersikap dan menjalani peran seorang ibu. 


Saya jadi ibu dengan isi otak yang blank sama sekali.

Yang perlahan diisi dengan bertanya pada teman (mereka lebih dekat pada realita kita, dibanding artis-artis media sosial), dan belajar dari pengalaman. Karena sesungguhnya memang pengalaman merupakan guru terbaik. Rajin scrooling di akun-akun IG yang memang sharing pengalaman dan ngasih tips dan ilmu tentang dunia bayi dan newborn.

Bukannya malah kemakan iklan hasil endorse-an :))

Saya bukan tipe wanita lembut yang bisa pelan sekali berbicara ataupun menyentuh dengan ketelatenan; selalu waswas bagaimana jika bayi yang belum 40 hari ini tiba-tiba keseleo atau tercetit karena kasarnya saya dalam menyentuh.

Saya bukan tipe wanita penyabar yang punya ritme hidup teratur dan semua berjalan sesuai dengan narasi yang dibuat; selalu kelabakan dengan perubahan jam biologis yang baru saya alami dan selalu tergesa-gesa melaksanakan to-do-list baru sebagai seorang ibu, hanya karena takut tak cukup waktu.

Saya bukan tipe-tipe ibu sempurna yang saya lihat di IG-IG ataupun di media sosial lainnya. Mendekati saja tidak.
Jadi jangan ditanya, berapa kali saya menangis, mengadu pada suami, kalau saya takut 'tidak bisa menjadi ibu yang baik' untuk anaknya.
Berapa kali saya meminta maaf kepada bayi di dalam timangan, kalau-kalau ia mengerti, bahwa ibunya ini, ibu yang baru belajar menjadi ibu baru, dan belum bisa menjadi sesempurna ibu bayi-bayi yang lain.

Tapi...
Nyatanya, tak ada ibu yang benar-benar sempurna di dunia ini. Semua ibu pasti memiliki kekurangan yang selalu berusaha ia tutupin di depan anaknya.

Dan tak ada ibu yang benar-benar kuat di dunia ini. Seorang ibu pun butuh bantuan dan tempat bersandar untuk berbagi lelah dan beban mentalnya yang mengemban amanah baru bertubi-tubi. 

Menjadi istri yang baik saja sudah cukup sulit, sekarang dibarengi dengan kewajiban menjadi ibu yang baik.

Ia hanya butuh dibahagiakan dengan perhatian, kasih sayang dan ajakan jalan-jalan di pusat perbelanjaan :)) *iya ini kode*

Tapi seiringnya waktu...
Semua ketakutan, kekhawatiran akan memudar dan kecemasan akan hilang dengan sendirinya.

Tentu masih ada kecemasan-kecemasan yang lain yang akan terus muncul seiring munculnya kemampuan baru dari si anak bayi; yang akan diimbangi oleh besarnya cinta melebihi segala keamatiran tentang dunia yang baru ini, yang akan terus memaksa diri belajar, berproses dan menjadi ibu yang baik.

Dunia tanpa jeda, yang memaksa wanita untuk menjadi bisa segalanya. 

Seorang ibu harus pintar, untuk bisa menjawab semua pertanyaan anaknya.
Seorang ibu harus sehat, untuk bisa ada dan menemani keseharian anaknya.
Seorang ibu harus kuat, untuk bisa memberi kekuatan lewat pelukannya.
Seorang ibu harus bahagia, untuk bisa membesarkan anak yang juga bahagia.

Dan terlepas dari itu semua, apakah dunia sekitarnya mendukung atau tidak untuk ia menjadi seperti itu, ia harus tetap menjadi pintar, harus tetap selalu sehat, harus tetap bersikap kuat dan harus tetap terlihat dan merasa bahagia di depan anak-anaknya, demi anak-anaknya.

Karena tak peduli secarut-marut apapun dunia di sekelilingnya, bagi seorang ibu, hidup dan masa depan sang anak adalah segalanya, yang akan ia perjuangkan mati-matian.

Disitu, akhirnya saya mengerti, mengapa surga ada di bawah kaki kami.


 

Seorang Ibu baru,


Buna-nya Dilan

Tidak ada komentar:

Terima kasih sudah singgah. Tak perlu segan untuk menyanggah atau memberi tanggapan atas pikiran yang tercurah. Kalau ada yang ingin ditanyakan atau mengganggu pikiran bisa kirim DM ke @celoteholic ya!

Diberdayakan oleh Blogger.