DOA YANG MEMALUKAN

Ada sebuah cerita lama yang ingin saya narasikan kepada anda, hari ini. Cerita tentang sekelumit makna dari perjalanan saya mencari ilmu di dunia ini...

Cerita yang mungkin mengingatkan saya kembali untuk teruslah membumi, dengan doa-doa yang melangit. Karena Tuhan, Maha Mengabulkan. 

====
๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ

Lelaki dan Odol
Kisah nyata dari seseorang yang dalam episode hidupnya sempat ia lewati dalam penjara. Bermula dari hal yang sepele. Lelaki itu kehabisan odol di penjara.

Malam itu adalah malam terakhir bagi odol diatas sikat giginya. Tidak ada sedikitpun odol yang tersisa untuk esok hari. Dan ini jelas-jelas sangat menyebalkan. Istri yang telat berkunjung, anak-anak yang melupakannya dan diabaikan oleh para sahabat, muncul menjadi kambing hitam yang sangat menjengkelkan.

Sekonyong-konyong lelaki itu merasa sendirian, bahkan lebih dari itu : tidak berharga ! Tertutup bayangan hitam yang kian membesar dan menelan dirinya itu, tiba-tiba saja pikiran nakal dan iseng muncul.

Bagaimana jika ia meminta odol pada TUHAN ?

Berdoa untuk sebuah kesembuhan sudah berkali-kali kita dengar mendapatkan jawaban dari-NYA .
Meminta dibukakan jalan keluar dari setumpuk permasalahanpun bukan suatu yang asing bagi kita. Begitu pula dengan doa-doa kepada orang tua yang telah berpulang, terdengar sangat gagah untuk diucapkan.

Tetapi meminta odol kepada Sang Pencipta jutaan bintang gemintang dan ribuan galaksi, tentunya harus dipikirkan berulang-ulang kali sebelum diutarakan. Sesuatu yang sepele dan mungkin tidak pada tempatnya. Tetapi apa daya, tidak punya odol untuk esok hari –entah sampai berapa hari-- menjengkelkan hatinya amat sangat.

Amat tidak penting bagi orang lain, tetapi sangat penting bagi dirinya.
Maka dengan tekad bulat dan hati yang dikuat-kuatkan dari rasa malu, lelaki itu memutuskan untuk mengucapkan doa yang ia sendiri anggap gila itu. Ia berdiri ragu-ragu dipojok ruangan sel penjara, dalam temaram cahaya, sehingga tidak akan ada orang yang mengamati apa yang ia lakukan.

Kemudian dengan cepat, bibirnya berbisik : 
“YA ALLAH YA TUHANKU, Kau mengetahuinya aku sangat membutuhkan benda itu”. 
Doa itu selesai.

Wajah lelaki itu tampak memerah. Terlalu malu bibirnya mengucapkan kata amin. Dan peristiwa itu berlalu demikian cepat, hingga lebih mirip dengan seseorang yang berludah ditempat tersembunyi.

Tetapi walaupun demikian ia tidak dapat begitu saja melupakan insiden tersebut. Sore hari diucapkan, permintaan itu menggelisahkannya hingga malam menjelang tidur. Akhirnya, lelaki itu –walau dengan bersusah payah- mampu melupakan doa sekaligus odolnya itu.

Tepat tengah malam, ia terjaga oleh sebuah keributan besar di kamar selnya.

“Saya tidak bersalah Pak !!!”, teriak seorang lelaki gemuk dengan buntalan tas besar dipundak, dipaksa petugas masuk ke kamarnya.

”Demi TUHAN Pak !!! Saya tidak salah !!! Tolong Pak … Saya jangan dimasukin ke sini Pak ..”

Sejenak ruangan penjara itu gaduh oleh teriakan ketakutan dari ‘tamu baru’ itu.

“Diam !!”, bentak sang petugas, ”Semua orang yang masuk keruangan penjara selalu meneriakkan hal yang sama !! Jangan harap kami bisa tertipu !!”
“Tapi Pak …Sssa ..”

Brrrraaaaakkk !!!!
Pintu kamar itu pun dikunci dengan kasar. Petugas itu meninggalkan lelaki gemuk dan buntalan besarnya itu yang masih menangis ketakutan. Karena iba, lelaki penghuni penjara itupun menghampiri teman barunya. Menghibur sebisanya dan menenangkan hati lelaki gemuk itu.

Akhirnya tangisan mereda, dan karena lelah dan rasa kantuk mereka berdua pun kembali tertidur pulas. Pagi harinya, lelaki penghuni penjara itu terbangun karena kaget. Kali ini karena bunyi tiang besi yang sengaja dibunyikan oleh petugas.

Ia terbangun dan menemukan dirinyanya berada sendirian dalam sel penjara. Lho mana Si Gemuk, pikirnya. Apa tadi malam aku bemimpi ? Ah masa iya, mimpi itu begitu nyata ? Aku yakin ia di sini tadi malam.
“Dia bilang itu buat kamu”, kata petugas sambil menunjuk ke buntalan tas di pojok ruangan.
Lelaki itu segera menoleh dan segera menemukan benda yang dimaksudkan oleh petugas. Serta merta ia tahu bahwa dirinya tidak sedang bermimpi.

“Sekarang dia dimana Pak ?”, tanyanya heran.

“Ooh..dia sudah kami bebaskan, dini hari tadi… biasa salah tangkap”, jawab petugas itu enteng.

”Saking senangnya orang itu bilang tas dan segala isinya itu buat kamu”.

Petugas pun ngeloyor pergi.

Lelaki itu masih ternganga beberapa saat, lalu segera berlari ke pojok ruangan sekedar ingin memeriksa tas yang ditinggalkan Si Gemuk untuknya. Tiba-tiba saja lututnya terasa lemas. Tak sanggup ia berdiri.
“Ya .. ALLAH, Ya .. YA TUHAAANNNKU !!” 
Laki-laki itu mengerang. Ia tersungkur di pojok ruangan, dengan tangan gemetar dan wajah basah oleh air mata. Lelaki itu bersujud disana, dalam kegelapan sambil menangis tersedu-sedu. Disampingnya tergeletak tas yang tampak terbuka dan beberapa isinya berhamburan keluar. Dan tampaklah lima kotak odol, sebuah sikat gigi baru, dua buah sabun mandi, tiga botol sampo, dan beberapa helai pakaian sehari-hari.

====

Lalu apa hubungannya dengan cerita saya? Karena membaca cerita tersebut, seperti mengulang kembali kejadian nyata yang saya alami sendiri, soal doa yang Allah kabulkan dengan cara yang tidak disangka-sangka, dan masyaaAllah, masih suka buat merinding takjub kalau mengingatnya lagi.

Saya mulai, ya teman...

Dua tahun lalu, mungkin sekitar bulan Juli atau Agustus 2015, uang kiriman dari orang tua saya sudah habis, tabungan simpanan juga sudah gak bisa ditarik lagi via ATM, alias udah limit, sementara hari itu, ada bahan praktikum kedokteran gigi yang harus dibeli, untuk memperbaiki gigi tiruan pasien yang masih dalam proses pembuatan.*
*: Sebagai koas (dokter) gigi, demi memenuhi requirement praktik pendidikan, kami harus rela mencari pasien dan menanggung seluruh biaya pengobatannya, jika mereka berkenan jadi 'bahan percobaan' seperti yang banyak dibilang orang.

Saya sudah sempat minta kiriman dengan orang tua, tapi rejeki dan adanya uang tidak semerta-merta instan kan, harus bersabar menunggu jeda hingga ikhtiar Ayah dan Ibu berubah menjadi rupiah di rekening saya.

Bangun sedari pagi pun sudah terpikir, ingin pinjam uang ke siapa, karena mendahulukan kepentingan dan kenyamanan pasien adalah prioritas utama demi ke-kooperatif-an mereka dan keberlangsungan pendidikan koas saya. 

Setelah shalat sunah dua rakaat, saya khusyuk berdoa. Lebih lama dari biasanya. Minta bantuan sama Allah. Bukan lagi doa dhuha tiap harinya, tapi doa yang menyebut nominal di dalamnya.

Malu. 

Rasanya malu sekali, saat para Nabi dan sahabat berdoa memohon ampunan atas dosa, saya malah minta hal yang duniawi. Dengan hitungan nominal pula di dalamnya. Malaikat yang mencatat pun mungkin terkikik geli ya. 

Tapi lurusin niat lagi, bahwa ini adalah demi menuntut ilmu, jihad dalam jalan yang lain. Bukan untuk main-main.

Nggak banyak kok mintanya, Rp 50.000,- saja. Karena bahan yang harus saya beli harganya Rp 27.000,- dan persediaan uang receh yang saya kumpulkan dari segala penjuru kamar kosan hanya tersedia sebanyak Rp 22.000,-. Kurang Rp 5.000,- lagi untuk beli bahannya, pun saya harus harap-harap cemas agar bensin motor cukup untuk perjalanan pulang pergi dari kosan ke toko bahan dan alat lalu ke Rumah Sakit lalu pulang ke kosan. 

Sadar gak punya uang, saya masih tetep nekad ke toko alat dan bahan. Karena memang uangnya gak cukup, saya gak bisa beli, tapi saya mastiin kalau stok barangnya ada. Rencananya mau pinjam ke teman untuk balik lagi nanti, sepulangnya dari koas.

Saat keluarin motor dari parkiran toko, ada tukang parkir yang duduk. Bapak-bapak yang tua sekali. Beliau memakai baju parkir orange yang lusuh dan buram dan menggantungkan peluit priwitan di lehernya, terduduk letih dengan mata tertutup. 

Saya diam. 
Menimbang: mampir kasih uang, atau tancep gas dan kabur? 
Kalau saya kasih 2.000, berarti uang saya berkurang lagi. Disaat mikir begitu, saya malah inget wejangannya ustad Yusuf Mansyur, bahwa sedekah di saat susah itu double nikmatnya, dan saya berilah selembar 2.000-an lusuh di tangan bapak tua yang masih terduduk, biarlah mungkin ia letih dalam ikhtiarnya. Setidaknya beliau tidak mengemis di jalanan. 

Dan kenikmatan bersedekah itu memang benar ada rasanya. Saya lebih ikhlas dan ridho, karena dalam hati saya bersyukur, hidup saya masih jauh lebih baik hari ini. 

Dari toko alat dan bahan, saya naik motor ke Rumah Sakit Pendidikan, sepanjang jalan saya dzikir asmaul husna "Ya Mujiib", Maha Pemenuh Doa, sambil mengulang doa selepas dhuha tadi dalam hati.

Sampai di ruang tunggu poli gigi, ternyata pasien saya sudah menunggu. Saya berkali-kali minta maaf kepada beliau, karena sudah menunggu lama dan terpaksa harus pulang karena bahannya nggak bisa saya beli. Harusnya hari itu, saya memenuhi janji untuk memperbaiki gigi palsu si Bapak pasien.

Pasien saya ini peserta Askes, biaya perawatannya ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah, pensiunan driver TNI AD. Dan sederhana sekali penampilannya, seperti kakek-kakek yang sering saya temui di masjid saat mengaji dulu. Kurus kecil dan murah senyum. 

Beliau bilang ndak apa kalau memang harus balik lagi besok, asal secepatnya gigi palsunya bisa digunakan, dan sebelum pamit pulang dia memaksa saya untuk menerima sebuah pemberiannya, amplop yang dilipat dan disebutnya sebagai ungkapan terima kasih.

Keras saya menolak, tapi si Bapak jauh lebih memaksa dan mengatakan, demi ketenangan batinnya atas bantuan saya selama ini (beberapa kali beliau mencabut gigi dan operasi benjolan di hidungnya, saya selalu bantu urusan di administrasi, pemeriksaan lab dan berbagai konsul).

Sepeninggalannya Bapak pasien, saya baru berani buka amplopnya. 
Dan disitu saya spontan nangis, di kursi ruang tunggu poli. Jam 10 pagi.
Doa saya pukul 8 tadi pagi yang hanya minta 50.000 atau secukupnya, Allah berikan 20x lipat.
Kebayang gak, perasaan saya gimana? Bertakbir pun dengan bibir gemetar. Masih takjub dan gak percaya rasanya. Bukan soal nominal yang berpuluh-puluh lipat lebihnya, tapi karena saya masih mengingat doa apa yang saya ucapkan tadi pagi dengan sedetail-detailnya.
Saya sangat butuh uang pada saat itu dan Allah sangat tidak terduga memberinya.

Sejak saat itu, saya memandang setiap orang yang saya temui, sengaja atau tidak, kenal atau tidak, pasti merupakan 'tangan' Tuhan untuk menjawab doa hamba-hambaNya, tinggal bagaimana kita bersikap dan bersyukur.

Allah tidak tidur... Dan Allah tidak main-main dengan doa hambanya. Apapun itu, pasti menunggu untuk dikabulkan dalam skenario terbaikNya.


Koas Gigi yang Masih Berjuang,


Dina

Tidak ada komentar:

Terima kasih sudah singgah. Tak perlu segan untuk menyanggah atau memberi tanggapan atas pikiran yang tercurah. Kalau ada yang ingin ditanyakan atau mengganggu pikiran bisa kirim DM ke @celoteholic ya!

Diberdayakan oleh Blogger.