Perfect Agony



“Jadi, bener kamu jalan sama dia di belakang aku?”


Galang gugup. Matanya menatap. Penuh rasa bersalah.

Reina ingin menangis. Menamparnya. Mendorongnya keras-keras. Melempar semua foto, kado, dan barang-barang kenangan mereka. Tapi Rei cuma bisa berdiri terpaku. Sama seperti Galang. Terpekur menatap lantai. Bersalah.

“Lang, bener, kamu jalan sama dia?”
Galang terdiam. Tak mungkin ia menyangkalnya, Reina ternyata ada di lounge tempat ia dan sephianya menghabiskan malam.
Reina datang menghampirinya sesaat setelah ia mengantar si sephia kembali ke sangkarnya.
Cara yang baik untuk menghindari pertengkaran frontal. 


“Aku minta maaf, cinta…”, Galang merintih.


Reina menatap Galang dengan lembut. Perih dalam hati, mendengar kata ‘cinta’ yang terucap dari bibir Galang.
Ia tersenyum.
Ia tau, sia-sia menyembunyikan tangisnya.
Sia-sia ia mempertahankan cintanya.
Galang mulai menangis.
Didera rasa bersalah. Bukan hanya karena ia telah menyakiti Reina, tapi karena Reina yang tanpa amarah menginterogasinya. Itu yang menyiksa batin Galang sekarang.
Karena sungguh, caci maki sehina apapun akan ia terima dari Rei, sebab ia pantas menerimanya. Bukan dengan segala kecanggungan ini. 
Reina perlahan maju.
Jarak mereka dekat.
Tangan Reina perlahan naik ke atas. 
Mempersiapkan pipi, Galang menguatkan hati bila memang tamparan akan ia terima.
Lembut namun dingin bagai pualam, tangan Rei menyentuh pipi Galang. Mengusapnya pelan, bagai benda berharga yang rentan pecah.
Galang menatap ke dalam mata Rei. Ada luka disana. Ada air mata yang turun.
“Rei…”, Galang mengusap pipi Rei yang penuh dengan bekas lelehan airmata.
“Maafin aku Rei… Aku nggak bermaksud nyakitin kamu… Aku masih sayang sama kamu.”, bergetar Galang mengatakannya. Sebuah pengakuan dari hati yang paling dalam.

Rei tersenyum, menatap lembut. Mengganguk pelan. Air mata menetes di ujung dagunya.
“Iya, aku tau itu”, lirihnya dalam hati.
Rei membuka tangannya. Memeluk Galang dengan erat. Membiarkan Galang merasakan wangi rambutnya, harum farfumnya, hangat tubuhnya, dan dalam cintanya.
Untuk terakhir kali.
Ya, untuk terakhir kali.
Galang diam, saat Rei beranjak ke dalam mobilnya.
Betapa rendah dirinya ia, jika masih harus memohon pada Rei untuk tetap disisinya.
Bagaimana mungkin ia bisa menahan Rei untuk tetap disisi, sementara hatinya menjerit bahwa ia sama sekali tak pantas untuk wanita sebaik Rei?!
“Terima kasih Galang, untuk ending yang indah ini. Dan selamanya, kau akan selalu mengenangku. Mantan terbaikmu.”

One message received at 4:37 pm, 29 Mei 2010
“Rei... Lo serius dengan obrolan kita semalem? Beneran gak apa-apa kan, kalo gue jadian sama Galang?”
Reina tersenyum, menghapus air matanya. Itu sms dari sephianya Galang. Lalu mulai mendial nomor baru. Tak lama terdengar nada sambung, lalu...

"Hi honey, aku ke rumah ya, malem ini?"
====================================================================


Tidak ada komentar:

Terima kasih sudah singgah. Tak perlu segan untuk menyanggah atau memberi tanggapan atas pikiran yang tercurah. Kalau ada yang ingin ditanyakan atau mengganggu pikiran bisa kirim DM ke @celoteholic ya!

Diberdayakan oleh Blogger.