BERASAN + 2 : BENERAN MAU NIKAH (?!!)


Perjalanan pulang sang calon suami idaman.

Akhirnya setelah 3 hari long weekend yang berasa suram karena tiada kehadirannya, saat matahari muncul lagi di hari esok, aku bisa melihat senyumnya lagi. Tertawa karena guyonan kadang garingnya lagi. Akhirnya aliran sungai rindu ini bermuara lagi pada mata air hatinya. Oke, ini lebay. Tapi sejak kapan, mereka yang sedang jatuh cinta bisa dilarang ini itu? Galaksi ini pun milik mereka.

Ini pertama kalinya… Aku mencari segala yang berhubungan dengan 'wedding checklist'.
Mencetaknya, memilih dan memilah macam-macam artikel persiapan pernikahan. Mencari referensi gedung pernikahan di web sana dan sini. Menyelami pengalaman mereka yang sudah menikah duluan di kota yang sama, Bandar Lampung.


Hasil print-an macam-macam persiapan


Baru mulai membaca pun sudah terasa kepanikannya. Oh Tuhan. Serempong ini kah untuk menjadi halal secara adat dan norma bermasyarakat. Saat Fatimah dan Ali pun hanya memenuhi 5 rukun nikah… Kami harus bersiap dari minimal 6 bulan sebelum hari H untuk kelancarannya.

Aku mulai mencetak time table. Delapan kertas berisi papan tanggalan per bulannya terhitung sejak Maret sampai Oktober. Mengisinya dengan semua jadwal yang sudah ada untuk setahun ini… Selebihnya menimbang-nimbang.


Tempelan time table di dinding kamar kosan


Ada banyak yang harus dipikirkan. Ada banyak yang harus didata. Ada banyak sekali yang harus dibuat dalam daftar.
Dan ada banyak sekali kecemasan.

Sama cemasnya seperti seorang ibu yang mempersiapkan pernikahan putri pertamanya, anak pertamanya, cucu pertama dari keluarganya, sama cemasnya seperti seorang Ibu yang rela-tak-rela harus melepaskan sang putri untuk keluar dari rumah, membangun rumah tangganya sendiri.

Pasti, akan ada banyak perselisihan antara aku dan ibu, nantinya. Mempersiapkan ini itu dan segala sesuatunya untuk pertama kali. Pasti akan ada banyak stuck moment di antara keras kepalanya aku dan keinginan-terbaik-seorang-ibu-untuk-anaknya. Pun sampai kini pun, belum ada kata sepakat yang lebih resmi keluar dari kedua belah keluarga tentang nominal dana dan rincian harga dari persiapan pernikahan ini.

Tapi setidaknya… Niat baik yang sudah direstui tidak boleh disia-siakan, bukan? Walau kemungkinan terburuk yang harus kami hadapi nanti adalah waktu acara yang harus dimundurkan… setidaknya ridho dari masing-masing orang tua telah kami dapatkan.

Semoga Allah mudahkan…


Allahumma laa sahla illa maa ja'altahu sahlan, wa anta taj'alul hazna idzaa syi'ta sahlaa

Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan Engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah. (H.R. Ibnu Hibban)

Tidak ada komentar:

Terima kasih sudah singgah. Tak perlu segan untuk menyanggah atau memberi tanggapan atas pikiran yang tercurah. Kalau ada yang ingin ditanyakan atau mengganggu pikiran bisa kirim DM ke @celoteholic ya!

Diberdayakan oleh Blogger.