Laki-Laki Bekerja

Ada suatu petang berujung malam yang kuhabiskan bersama seorang teman kesayangan. 

Teman yang kuharap nanti, aku kan bangun dengan melihat wajahnya untuk pertama kali.
Mengawali obrolan singkat dengan nasihat agar aku bisa lebih mengontrol nafsu belanja dan jajanku.

"Kamu tuh, kalo kepengen sesuatu itu, ditahan dulu. Tunggu sampe seminggu. Kalo setelah seminggu pas ngeliat itu barang masih kepengen, baru dibeli. Tapi inget... nggak yang semua orang punya, kita harus punya.", ujarnya ringan.

Nasihat yang sama diulang-ulang. Selalu diulang-ulang: 
Nggak yang semua orang punya, kita harus punya.

Aku, khasnya aku, mengangguk mengiyakan, agar bibirnya tak lagi berceloteh, sambil sibuk menikmati milk-tea-bubble favoritku. Tersenyum melirik bungkusan di samping tas: sepatu baru, horeeee...

Tapi tampaknya ia malah menjadi begitu bersemangat melihatku anteng, karena biasanya nasihatnya akan kutanggapi dengan kalimat-kalimat bebal ala aku.
Obrolannya menyambung.
Lalu ia mulai bercerita.

"Yang namanya laki-laki, nyari pekerjaan itu gampang. Gampang banget. Dimana ada niat pasti ada jalan. Tapi untuk memilih jalan yang benar, itu yang nggak mudah.
Gampang banget buat jadi kaya. Banyak cara-cara instannya untuk ngehasilin duit banyak, cepat dan singkat. Tapi apa kami mau, bawa uang hasil maksiat ke rumah? Ngasih makan anak dan istri dengan uang panas yang ujungnya, bakal membakar mereka di neraka? Tentu nggak."

Aku menggigit bubble yang masuk ke rongga mulutku. Notifikasi smartphone tak lagi penting saat itu.

"Tapi kebanyakan wanita nggak mengerti itu. Nggak mengerti seberapa keras keringat harus diperas hingga menghasilkan uang yang tak seberapa, tapi halal. Kebanyakan wanita ingin lelakinya kembali ke rumah dengan membawa apa yang mereka idam-idamkan layaknya wanita.
Dan situlah pengertian pasangan dituntut. Mengerti bahwa pria-nya telah berusaha sekuat tenaga walau hanya bisa menjanjikan hidup esok dan esok lusanya.
Mengerti bahwa pria-nya butuh rangkulan dan dorongan untuk bisa bekerja lagi dan lagi esoknya.
Karena kalau bukan karena kamu, dan anak-anak kita nantinya, mungkin semua pria akan gelap mata memandang harta dan dunia."


Aku tercenung...
Ada bunyi sedotan yang terisi udara karena air di gelas bubble-ku telah habis.
Aku memejam dan tersenyum.
Ada kamu di masa depanku.



Tidak ada komentar:

Terima kasih sudah singgah. Tak perlu segan untuk menyanggah atau memberi tanggapan atas pikiran yang tercurah. Kalau ada yang ingin ditanyakan atau mengganggu pikiran bisa kirim DM ke @celoteholic ya!

Diberdayakan oleh Blogger.