Hari Ibu ke-24, Selamat Hari Ibu, Bu...

Ibu, adalah orang pertama yang aku kenal sepanjang sejarah 24 tahun aku hidup di dunia. Yang tangannya selalu hangat untuk ku genggam, mengenalkan apa artinya sebuah kenyamanan untuk pertama kalinya dalam sebuah pelukan.

Waktu itu, ibu baru berumur 23 tahun saat melahirkan aku. Setahun lebih muda dari umurku yang sekarang. Ibu masih cantik-cantiknya pada saat itu, jauh lebih cantik dari yang sekarang.
Terlahir sebagai anak pertama, sudah tentu aku menjadi harapan bagi semuanya. Menjadi anak yang pintar, anak yang cerdas, berbudi pekerti baik dan cantik serta menawan hati semua orang.
Walau pada akhirnya anakmu ini dipanggil "Ndut" oleh kebanyak orang, Ibu selalu bilang aku cantik dengan banyak lemak berlebih. :')

Mungkin...
Ibu, 24 tahun yang lalu, masih seperti aku… yang mungkin masih ingin bermain, masih ingin bebas, masih ingin beraktivitas seperti kebanyakan teman wanitanya, tapi lebih memilih aku dan tinggal di rumah, mengurangi segudang aktivitas.

Aku tak pernah lupa dengan suara ibu dari radio tua di rumah kita, yang masih terjaga dengan baiknya hingga detik ini. Radio lama yang menembangkan lagu-lagu kenangan khas tahun 90'an. Aku terbiasa ternina bobo dengan suaramu, Bu, dan tepukan lembut di punggung oleh nenek buyutku, yang juga neneknya Ayah.

Banyak hal yang berubah dari 24 tahun yang lalu.
Dari rumah kecil sepetak khas perumahan nasional, lalu memiliki lantai dua, lalu bertambah lagi dengan garasi, dengan teras tempat ibu menikmati teh di sore hari, lalu bertambah lagi menjadi lebih luas dan panjang dengan membeli rumah di belakang.

Ada banyak yang berubah, Bu…
Dari aku yang merangkak, merengek, hingga kini bertingkah salah jika kau tanya tentang kapan ku menikah…

Masih segar dalam ingatan, betapa aku banyak sekali makannya. Ibu tak pernah berhenti menyuapiku makan, pagi, siang, sore dan malam. Memastikan bahwa tidurku nyenyak tanpa pernah merasa kelaparan. Tanpa sedikit pun aku peduli, apakah ibu sudah makan?


Ibu juga pasti ingat kan, saat aku berhenti meminum susu karena merasa mual? Umur 4 tahun, aku membuang gelas berisi susu yang biasa ibu berikan. Saat itu Ditha, masih 2 tahun dan sedang lucu-lucunya. Aku membanting gelas begitu saja dan berteriak-teriak kalau susunya tidak enak. Menyalahkan ibu, mengapa ibu membuat susunya tidak enak. Padahal, mungkin saja aku yang memang banyak kehendak saat itu. Tapi ibu tak pernah marah… Tak pernah….

Masakan ibu, itu juara satu enaknya. Juara satu lezatnya. Bahkan Farah Quinn rasa-rasanya harus belajar cara memasak dan bagaimana membereskan dapur dengan baik dan benar dari Ibu.

Masakan ibu selalu luar biasa rasanya. Ibu bisa masak apapun. Ibu bisa mengolah apapun menjadi makanan kesukaan. Dan sampai detik ini aku kesulitan menemukan makanan apa yang tidak pernah aku makan. 

Ibu bisa dengan mudahnya terprovokasi kalo aku bilang, Mamah si A tadi masak 'ini' dan bawa ke sekolah, lalu ibu akan sibuk membuka-buka majalah atau menelpon temannya, sekedar bertanya bagaimana cara memasak 'ini' tadi.

Dan ibu bisa buat segala jenis kue yang pernah kulihat di majalah atau tivi. Ibu senang sekali buat Blackforrest karena anak-anaknya senang sekali makan coklat. Tiap minggu tiba, kami akan menunggu-menunggu, kudapan apa lagi ya yang akan dibuat ibu? Puding kah? Muffins kah? Cake-kah? Kalau dulu aku tahu kue-kue cantik itu bernama cupcake, pasti aku tidak senorak sekarang tiap melihat cupcake cantik dipajang di toko-toko bakery. 

Kue buatan ibu, sudah teruji kelezatannya. Selama 10 tahun, ibu punya bisnis rumahan yang berjudul 'DD cakes, kue kering, kue basah, dll', itu label yang pernah kubaca di salah satu toples. Dan tiap lebaran atau natal tiba, ibu selalu kebanjiran pesanan, hingga butuh bantuan mbak-mbak tetangga dari mana saja yang mau belajar membuat kue dan bekerja selama Ramadhan.

Dan kue-kue yang wangi, hangat dan baru keluar dari oven itu rasanya seperti menggigit surga bagi aku yang masih gempal-gempalnya dulu. Mungkin itu alasannya kenapa aku begitu addicted sama roti dan segala bau-bauannya.


Aku pernah kesal denganmu Bu, karena terlalu sibuk mengurus kue orang lain, ibu tak memperhatikan kue yang ibu buat untuk kami. Gosong di pinggir. Dan aku dengan santainya, menginjak seloyang lapis legit pesanan orang karena kesal. Aku menangis hingga malam saat sore itu juga pahaku kau pukul Bu, bukan karena sakit. 
Tapi karena penyesalan tak henti saat harus melihatmu begadang sampai pagi untuk menyelesaikan pesanan yang akan diambil keesokan hari. Maafkan aku, Bu. Maafkan…


Ibu yang mengenalkan aku tentang nikmatnya makanan laut. Selain karena Ayah adalah orang laut yang sehari saja tak bisa makan ikan/ seafood, cara ibu memasaknya, tak bisa aku lampaui hingga detik ini.
Kepiting, udang, cumi, lobster, gurame, simba, bahkan ikan yang lebih besar dan panjang dari lengan ibu sendiri pun pernah tersaji dengan lezatnya di meja makan kami dari dapur Ibu. Ayah suka memancing, dan ibu suka memasak.
Masa kecilku dipenuhi limpahan Omega 3-6-8-9 yang kini mungkin meluruh dimakan MSG dari mie instan.

Setiap Ramadhan tiba, ritual makan bersama menjadi hal yang paling menyenangkan. Di meja makan yang hanya untuk 4 orang, lauk tempe dan tahu pun menjadi mewah dengan sambal terasi buatan ibu. Waktu sahur dan berbuka menjadi ajang pujian bagiku yang dulu sudah menjalani puasa full dari kelas 1 SD. 
Dulu, Ibu melakukan semuanya sendiri. Dari memasak, menyiapkan, melayani ayah makan, membereskan meja makan, mencuci piring-piring kotor, sampai membuang sampah ke depan pun, Ibu yang lakukan. Dua anak perempuannya terlalu kecil, sembrono dan ceroboh jika disuruh. Bukannya membantu, malah menambah kerjaan nanti.


Terbangun sebelum subuh untuk tahajud dan mengaji sampai adzan berkumandang. Setelah selesai berbincang kepada Dia yang aku selalu yakin, ada aku di dalamnya, Ibu akan bergegas ke belakang. Mengambil sapu dan mulai membersihkan seluruh debu, remahan roti, atau bahkan tanah kering yang ada di lantai rumahnya. Karena sesaat setelahnya, Ibu akan membasahi lantai itu dengan air dan meremajakan kembali lantai marmer di rumah kami.
Setiap hari.
Setiap hari ibu akan mengulang rutinitas itu.
Belum termasuk segala baju yang aku kotori dengan tanah, debu, ompol atau bahkan ingus. Ibu mencucinya dengan bersih sekali. Lalu menggosoknya dengan sangat rapih, sebelum baju itu aku temui di lemari yang seringkali ku acak-acak saat mengambilnya.


Ibu pelit. Tak pernah mau membelikanku baju peri seperti yang aku lihat di tv-tv. Ibu tak pernah mau membelikanku baju khayalan setiap anak perempuan, warna pink, dengan payet berkerlap-kerlip lalu tile berlapis-lapis lengkap dengan mahkota imitasinya. Ibu tak pernah membiarkanku memakainya. Ibu bilang itu adalah baju norak.
Kurasa ibu hanya tak ingin, anak gendutnya terlihat sesak dan kepanasan di dalam baju seperti itu. Terlebih lagi, aku tak ada sedikitpun tampang barbie untuk pantas memakainya. Atau juga mungkin, karena uang belanja yang ayah kasih, hanya cukup untuk membelikanku pensil dan buku baru. 

Tak apa, Ibu. Aku mengerti sekarang. Ibu tidak pelit, tapi harga kebutuhan yang semakin melilit.

Aku belajar berjuang untuk mendapatkan apa yang kuinginkan darimu, Ibu. Ibu tak pernah memberiku uang jajan lebih dari 500 perak saat aku kelas 4. Ibu juga tak pernah langsung memberi uang saat aku meminta lebih dari apa yang harusnya aku miliki.

Aku tau, lewat pandangan mata ibu yang berbinar, ibu ingin sekali punya baju seperti yang dipakai model itu di majalah wanita langganan ibu yang datangnya bersamaan dengan BOBO-ku. Alih-alih bermimpi, ibu lebih milih bergerak dengan tangan sendiri untuk membuatnya. Menggariskan pola-pola dan mengobras, menjelujur, menelisik, hingga memasang kancing, ibu kerjakan sendiri. Hingga baju-baju ibu selalu tak pasaran. Tak ada orang lain yang punya baju seperti ibu, elegan dan cantik, seperti di majalah-majalah, tanpa merek tentunya.

Dari 1-2 orang yang tertarik, lama kelamaan mereka tau kalau ibu pintar menjahit. Dan pesanan tak hanya lagi setelan baju, celana atau dress anak. Tapi juga, gordyn, sprei, sarung bantal, taplak meja, bahkan sampai penutup galon pun, ibu bisa membuatnya.

Ibu pernah membuat seragam untuk 2 TK secara bersamaan dalam satu tahun ajaran baru. Ibu juga pernah membuat seragam pramugara dan pramugari dari sekolah pendidikan pramugara/i milik teman ibu.

Dua lapangan kerja ibu buka setiap tahunnya untuk para gadis tetangga yang mau belajar dan berusaha, hingga akhirnya mereka bisa membuka usaha sendiri dan dapet pelanggan tetap dari ibu.

Dan kerajinan tangan ibu itu, bertahan lama. Lama sekali. Jika lebaran tiba, rumah kami akan dihiasi dengan warna yang senada dari gordyn, sarung bantal ruang tamu, taplak meja ruang makan, sampai sarung bantal dan seprai pun, masih sering kami gunakan hingga sekarang. Hasil tangan ibu belasan tahun yang lalu.


Never too old to learn, better late than never. Ibu yang ngajarin aku untuk terus menuntut ilmu setinggi mungkin. Ga ada kata menyerah untuk pendidikan. Ibu memang cuma lulusan SMA waktu menikah dengan ayah yang sarjana hukum. Tapi saat aku beranjak remaja, ibu juga ikut meremajakan otaknya dengan kembali ambil pendidikan D2 di Pendidikan TK Tadika Puri. Aku yang jadi saksi melihat ibu belajar di bangunan lama yang paginya digunakan anak TK untuk belajar. 

Setelahnya, ibu ambil S1 dengan jurusan yang sama. Pendidikan Anak Usia Dini. 
Ibu berbakat sekali untuk jadi guru TK. Aku bahkan lupa, guru mana yang pernah membasuh kotoranku saat aku BAB di TK dulu. Ibu jadi guru TK yang luar biasa hebatnya, dicintai anak-anak kecil hingga bisa menjadi Kepala Sekolah di TK yang ibu masuki sebagai guru honorer disana.

Ibu nggak pernah puas memang kalau soal pendidikan. Ibu lagi-lagi ambil sekolah sebagai Magister Pendidikan sambil terus bekerja saat anak-anak gadisnya sudah mula dewasa, dan ayah di rumah sudah cukup terhibur dengan adanya Aden, lelaki satu-satunya. Ibu lulus S2 saat aku masih berkutat dengan S1-ku. Ibuku hebat. 


Ibu adalah mahkluk tercengeng yang bisa pingsan sekejap melihat darah, dan memaksaku untuk menjadi dokter sedari dulu. Mungkin bukan memaksa. Karena memang setiap ditanya teman-teman, aku selalu bilang ingin menjadi dokter. Mungkin dari semua perkataanku yang kau aamiinkan adalah yang menjadiku sekarang. 
Ibu tak pernah tak menangis kalau menonton film India atau telenovela. Dan bagaimana mungkin ibu bisa merelakan anak gadis 16 tahunnya terpisah begitu saja darinya untuk menjalani kehidupan di luar rumah? Kata ayah, ibu menangis lebih dari seminggu kalau mengingatku. Menelpon lebih dari 3 kali sehari sebulan pertama aku di Indralaya, Sumatra Selatan.
Tenanglah Ibu, aku kini sudah mulai terbiasa. 7 tahun di kota ini, selalu membuatku mencari tempat kembali. 
Ibu menangis saat Idul Adha pertama aku tak di rumah. Khawatir dengan siapa aku shalat, dimana aku berkunjung dan apa yang aku makan di hari raya itu. Menyesali keputusanku berkali-kali mengapa aku tak pulang. :') Dengarlah ibu, kali ini aku bahkan bisa membuat rendang dan oporku sendiri…


Ibu adalah wanita terhebat dengan fashion police's sense yang tak terbantahkan. Baju A yang kupikir cantik, jika dapat pandangan bergidik dari ibu, ingin rasanya kubakar dengan pematik. Menyesal belinya pakai uang tabungan sendiri.

Ibu juga yang selalu wanti-wanti aku untuk menahan nafsu makan agar tubuh ini tak melulu melar. Karena baju sebagus apapun akan jelek jadinya kalau tubuhku tidak proporsional. Itu katamu Bu. Tapi badan ini seperti adonan roti yang diberi ragi. Mengembang tanpa henti. 


Ada kalanya, Allah pisahkan ibu dari ayah saat beliau dipindahtugaskan di Jakarta. Saat itu, aku di Palembang dan Ditha sudah kuliah di Indralaya. Ibu berdua saja dengan Aden di rumah yang dulunya sempit, sekarang begitu lengang. Ibu dengan kuatnya menjalani keseharian walau tanpa ayah yang biasa menemani. Ibu yang tetap siaga dalam tidurnya dan pernah menelepon saat Aden demam tinggi dan mengigau aneh. Ibu minta ditenangkan, karena bingung harus bagaimana saat itu. Bagaimana aku bisa meberimu ketenangan ibu, jikalau engkau sumber ketenangan jiwa raga kami gelisah di sana? 
Kerinduan bisa menjadi penyakit paling mematikan bagi batin-batin yang terikat. Ibu, kami pasti segera pulang…


Orang-orang bilang, ibu baru punya anak satu, yaitu Aden, lalu aku dan Ditha ini, lahir dari mana? Hehehe
Orang-orang bilang, kita lebih seperti adik-kakak jika jalan bersama di pusat perbelanjaan. Aku kakaknya, ibu adiknya. 
Orang-orang juga bilang, kita nggak ada mirip-miripnya sebagai ibu dan anak karena aneh jika mereka langsung to the point: "Kenapa cantikan ibunya daripada anaknya?" alangkah tak sopannya...
Orang-orang itu juga bilang, ibu awet muda dan penasaran dengan rahasia badan langsing ibu walau sudah beranak tiga.

Padahal ibu sudah kepala 4 ya bu. Tepatnya 46 tahun, 4 tahun dari sekarang, ibu genap berumur 50 tahun.

Ini adalah Hari Ibu ke-24 yang Ibu lewati bersama kami.
Hari Ibu yang baru kami pahami maknanya setelah tinggal jauh darimu.
Tentang beratnya pekerjaan seorang ibu.
Tentang sulitnya menjadi babu yang harus tetap terlihat cantik untuk suamimu.
Tentang susahnya mengurus dan membesarkan anak, sambil terus menanamkan nilai-nilai baik hingga anakmu ini tak jadi benalu bagi orang lain.

Ibu, akhirnya kami mengerti, mengapa Tuhan menempatkan surga itu ada di bawah telapak kakimu… 


Selamat Hari Ibu, Ibu…
Ibu JUARA di seluruh dunia. 

Ibu dan Anak pertamanya. (atau adiknya?) Hahahaha


P.S: Tuhan, jika memang telah Engkau ciptakan istana dan segala kenikmatan surga untuknya disana, izinkan aku masuk kedalamnya… Karena Ibuku, tak kan pernah mau menginjak surga saat melihat kami, anak-anaknya, tak ada di dalam sana…


Alhadziniah Al-Fatihaah untukmu, Ibu…


Palembang, 22.12.2013


Ananda Dina 


2 komentar:

  1. Dinaaaa,.
    Nangis bombay nih aku
    Salam buat Ibumu yaaah
    Ibumu keren
    (Tapi ttp kerenan ibuku, haha)

    BalasHapus
  2. Hahahaha, aku juga berlinangan pas ngetiknya, kangen sangaaat sama Ibu.
    Tapi tahan nggak mau nangis, karena pasti ibu khawatir dengernya nanti…

    Insyaallah aku salamin Des, kalo pulang nanti…
    Ibuku keren, ibu kamu juga keren

    Bisa bikin sebel dan kangen dalam waktu bersamaan saat kita diocehin lewat telpon. Hhaahaha

    BalasHapus

Terima kasih sudah singgah. Tak perlu segan untuk menyanggah atau memberi tanggapan atas pikiran yang tercurah. Kalau ada yang ingin ditanyakan atau mengganggu pikiran bisa kirim DM ke @celoteholic ya!

Diberdayakan oleh Blogger.