Cangkir-cangkir tak lagi hangat.

Langit makin gelap. Mendungnya sudah tak tertahan seakan ingin menumpahkan hujan. Menampar kaca gedung-gedung tinggi.

Dua sahabat duduk tenang sambil menikmati gerimis yang mulai turun, alih-alih merutuki hujan yang membuat tak bisa pulang, mereka malah bersyukur terjebak di kantor sebelum basah bukan kepalang.
Wangi teh rasa apel favorit Kirana menyapa lembut, menari bersama uap dari cangkir cappucino Ariani.
"Ar… ke langit mana selama ini do'a-do'aku terbang mengangkasa? Kemana Tuhan kabulkan do'a-do'aku itu? Kenapa Zai belum juga mampu melihatku?" 
"Allah simpan itu untuk kalian." 
"Sampai kapan?" 
"Sampai kamu mampu, sampai ia bisa. Sampai kalian pantas menerimanya." 
"Apa cintaku ini belum cukup tulus untuknya? Apa usahaku belum cukup kuat untuknya?" 
"Mungkin sudah. Mungkin belum. Mungkin sudah cukup tulus, mungkin sudah cukup kuat... Tapi belum cukup pantas untukNya mengabulkan apa-apa yang kamu pinta." 
"Apa semua doa ini, sia-sia?" 
"Bahkan daun yang jatuh di tanah pun ada maksudnya. Bahkan sebutir pasir yang terbang tertiup angin pun ada catatannya. Bagaimana mungkin kau pertanyakan apakah sebuah do'a itu sia-sia atau tidak?" 
"…" 
"Do'aku pun tak selalu sampai kepada orang yang tepat, dulu. Do'aku tak pernah sampai kepada ia yang namanya kusebut berulang dalam do'a itu sendiri." 
"Lalu?" 
"Tuhan punya rencana yang selalu jauh lebih indah dari apa yang kita rancang. Doaku sampai tepat alamat seperti yang tertulis di Lauhul Mahfuz-nya. Bukan yang tertulis di dalam diari-ku." 
"Apa kamu kecewa, saat tau Tuhan tidak mengabulkan doamu?" 
"Ya. Aku bahkan menangis meraung-raung." 
"Bagaimana caranya agar bisa tersenyum?" 
"Cukup hapus airmata, dan naikan sudut bibirmu ke atas." 
"Anak TK pun tahu itu, Ar..." 
"Ya, hal itu hanya bisa kau lakukan jika hatimu ikhlas menerima ketentuanNya. Dan ikhlas melepaskan. Allah jawab doa-doaku lewat kehadiran orang lain, yang bahkan jauh lebih baik." 
"Tapi aku masih menunggu Allah kabulkan do'a-do'aku lewat Zai. Aku tak mau ada orang lain." 
"Aku tau." 
"Ar… apakah Allah sengaja menahan kami berjodoh?" 
"Mana pernah Allah menahan jodoh bagi para perempuan mulia sepertimu. Apa kamu mulai meragukan kekuatan doamu sendiri?" 
"…" 
"Karena mungkin, Allah tau kau tak seyakin itu dengan do'amu sendiri. Jika kamu tak yakin, apa mungkin, para malaikatnya berkata 'aamiin' atas doamu?"
Cangkir-cangkir tak lagi hangat. 
"Beruntung aku mengenal Zai darimu, Ar. Terima kasih telah membantuku menemukan orang yang tepat. Oh ya, bagaimana dengan jawaban doamu tadi?" 
"Oktober tahun depan, kami menikah." 
"Wuaw, apakah Zai tau?" 
"Belum. Harus kah?"

Hujan semakin deras. Ada sebentuk rahang yang mengeras di balik pintu ruangan mereka... Milik Zai, pria bernama lengkap Ghazali, yang semakin hari semakin cinta dengan teman masa kecil-nya sendiri, Ariani.



Palembang, 30 Desember 2013

Tidak ada komentar:

Terima kasih sudah singgah. Tak perlu segan untuk menyanggah atau memberi tanggapan atas pikiran yang tercurah. Kalau ada yang ingin ditanyakan atau mengganggu pikiran bisa kirim DM ke @celoteholic ya!

Diberdayakan oleh Blogger.