Mon (ster) day!

Mondaaay! MONSTER DAAAAY!

Hahaha, udah bukan kabar burung lagi, kalo semua membenci Senin. Sangat benci. Sebenarnya bukan pada Senin-nya sih. Tapi lebih ke hari dimana harus memaksakan diri untuk bekerja lagi setelah nyaman dengan liburan dan hiburan.
Dan SENIN yang ketempuan. Kaciyan.. #pukpuk

Dan cerita saya hari ini adalah dimulai dari... DIMAS.
Selalu, selalu tentang orang itu. Makhluk satu itu. Dan ciptaan Tuhan yang ngerti-saya-banget itu.
Karena hari-hari saya memang diawali dan diakhiri dengan dia di samping saya, di Chat BBM saya, di inbox Hp saya, dimana-mana ada dia. Seperti imbuhan. Sayang tanpa 'ke-' dan '-an' tak akan jadi kesayangan bukan? Dan Dina tanpa Dimas, takkan jadi kesayangan juga. #apasihNa

Jadi pagi saya hari ini diawali oleh mata yang terjaga sejak adzan Isya di Minggu malam, tertanggal 18 November 2012, dan terus terjaga sampai jam 5:40 pagi di tanggal 19-nya.
Tidur siang yang kelamaan. Kepanjangan. Dan saya semalam begadangan.
Menulis. Mengobrak-abrik kenangan. Hati yang rapih atau berantakan. Saya menulis.
Meneteskan airmata untuk instrumen lagu-lagu sedih pengiring malam yang indah.
Atau sekedar tertawa melihat isi blog 9GAG sepanjang malam.

Semenjak modem saya punya kapasitas download 4,5 GB dimulai dari pukul 00:00 sampai pukul 06:00 pagi, sepertinya, saya akan menjadi sebangsa nocturnal.

Lalu tidur singkat yang terganggu dengan kedatangan dia. Iya. Dia mengganggu tidur saya yang baru berjalan 10 menit. BBDFGE. Bangun-bangun dapet firasat gak enak.
Tapi saya abaikan. Toh hari akan terus tetap berjalan bukan?
Berjalan...berjalan....berjalan....
Sampai terhenti di pukul 7:37 pagi di jalan Palembang-Indralaya entah di kilometer berapa. Yang jelas, masih jauh dari melewati Terminal Karya Jaya.

Mobil yang kami naiki berhenti untuk memakan gigi seperti yang diinginkan pengemudi, Dimas.
Dan paniklah seisi mobil. Karena di tengah kemacetan, kami membuat kemacetan. Kemacetan double impact.
LALU?

Ya didorong mobilnya. Sempat putus asa, dengan meminggirkan mobil ke tepi jalan. Tapi diam berarti mati. Tak ada usaha. Maka kami kembali mendorong mobil Avanza seberat-beratnya itu ke arah terminal Karya Jaya, berharap bisa bertemu dengan bengkel yang pemiliknya baik hati baik rupa.
Untuk sesi ini, saya, Dina Oktaviany Putri, seseorang yang diamanatkan menjaga Ibil dengan sebaik-baiknya, mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kesediaan: Aprilia Yoga Erlangga, 'Yaya' Soraya dan Nessa Lucu Nan Imut atas kesediaannya untuk menemani, tenaganya untuk mendorong, cerianya untuk mengoptimisasi dan doanya untuk kelancaran perjalanan kami. Kalian teman jalan yang baik. Anugrah tiada terbatas, bisa mengenal dan menjadi teman kalian. :")

Lalu apakah Ibil akan bisa berjalan lagi setelah bertemu dengan pemilik bengkel baik hati di depan terminal Karya Jaya itu?
Berjalan sepanjang 5 km. Lalu mati lagi. Karena macet yang berkepanjangan. Dan kami yang membuat kemacetan double impact. DUA KALI.
Dan mendorong lagi. Dan keringatan lagi. Dan kelelahan lagi. Maka dari itu, ucapan terima kasih pun rasanya sangat kurang untuk membalas kesediaan orang-orang yang saya sebutkan diatas tadi.

Dengan modal doa, kepercayaan bahwa Allah akan membantu kami, saya menghubungi seorang kawan. Teman. Mbak yang baik hati. Yang datang setelah kami mendorong 10-12 kilometer mobil sebesar Ibil.

Dan ayahnya yang turut andil, dan uang yang terbuang (agak) sia-sia membeli sling kopling, dan pemilik bengkel 'baik hati' tadi mobil bisa hidup, memakan gigi, walau dengan susah payah, kami bawa ke bengkel terpercaya. AUTO 2000.

Dengan mulut yang terus berdzikir dan hati yang terus berdoa, sampailah kami di Plaju.
Terhitung dari Terminal Karya Jaya, bisa sampai ke Plaju dengan kondisi yang menggenaskan -suara kopling yang bunyi, starter yang mati-mati, bau prodo kopling yang hangus- itu mukjizat. Dan Allah yang memberinya.

Belum lagi pada rincian biaya sebesar Rp 1.721.853,-

Belum lagi pada tanggung jawab 'laporan' ke Ayah Bunda.

Belum lagi pada rasa bersalah kepada si empunya mobil, Ditha.

Allah membuat semuanya menjadi mudah. Bisa dilewati dan terlewati tanpa marah-marah.

Hanya saja, ini memang 'bagian' untuk kami, untuk saya dan Cunda.
Agar tidak sembarangan lagi memakai Ibil tanpa merawat dan memanjakannya.

Alhamdulillah. Saya buktikan lagi kalau kekuatan Doa itu nyata.

Maka, kenapa kita enggan berdoa untuk saudara-saudara yang ada di Palestina?

Tidak ada komentar:

Terima kasih sudah singgah. Tak perlu segan untuk menyanggah atau memberi tanggapan atas pikiran yang tercurah. Kalau ada yang ingin ditanyakan atau mengganggu pikiran bisa kirim DM ke @celoteholic ya!

Diberdayakan oleh Blogger.