Kesehatan: nikmat yang terdustakan.

Tadi pagi, baru aja dapet berita duka dari seorang kawan tentang kematian seseorang.
Kematian seorang anak dari ibu guru semasa SMA.
Ibu Guru yang bijaksana, yang saya rasa, sangat pantas menjadi wanita di surga...

Bu Enung Suhartini, beliau guru biologi terbaik yang pernah aku punya. Guru biologi waktu SMA yg bikin aku semangat belajar ilmu hayat... Perawakan yang kecil, senyum yang tulus, dan perangai yang lembut, siapa yang ga sayang sama guru seperti itu?

Dan ga ada yang nyangka, guru sederhana itu sedang Allah berikan cobaan sebagai penghantarnya ke surga.

Bu Enung menikah dengan lelaki hebat yang sampai saat ini masih setia menjadi suaminya selama lebih dari 25 tahun ini. Lelaki yang menjadi imam yang baik, yang membimbingnya dengan sabar, yang membangun rumah sebagai surga kecil mereka di dunia.

Dan Allah menguji mereka dengan menimpakan cobaan di tengah-tengah anugrah kesakinahan pernikahan yang mereka bina.
Anak pertama, diindikasinya mengidap penyakit thalassemia karena ternyata ayah ibunya menjadi pembawa gen penyakit tersebut. Hanya pembawa, bukan pengidap. Tapi berdampak pada anak yang dilahirkannya.
Walau Bu Enung dan suami sama sekali tidak mengidap penyakit tersebut, tapi ternyata, keduanya membawa gen tersebut. Dan Allah selalu punya rencana.
 Janin yang diperkirakan akan mati pada kehamilan trimester ketiga, dipertahankan dan lahir dengan sehat. Tapi dengan membawa penyakit itu.Tumbuh dengan mengidap penyakit itu seumur hidupnya.

Pengalaman dari anak pertama yang hidup dengan membawa penyakit tersebut seumur hidup, membuat mereka takut untuk memiliki anak lagi. Takut anak berikutnya akan terkena penyakit itu lagi. Walau kemungkinannya hanya 25. Hanya 1/4 dari segala 1 kemungkinannya.
Tapi ternyata memang Allah punya rencana. Ditengah proses pertumbuhan anak pertama yang setia dengan obat-obatannya, Bu Enung hamil kembali.

Wanita mana yang tidak bahagia saat mengetahui ada nyawa di dalam perutnya? Ada janin yang hidup dan tumbuh dalam dirinya. Begitu pun dengan Bu Enung. Bahagia. Tapi masih diliputi ketakutan yang mencekam bahwa kemungkinan anak keduanya akan mengidap penyakit yang sama..
Tapi bukankah manusia memang harus terus berharap dan terus berusaha? Bertawakal dan berdoa. Dan begitupun Bu Enung dan suaminya. Beliau optimis, bahwa Allah pasti punya rencana lain di kehamilan keduanya ini. Hingga lahirlah anak kedua yang disambut bahagia oleh keduanya dan juga si mbak yang kini menjadi kakak. Menanti-nanti adik yang kan menjadi teman mainnya di rumah....

 Dan ternyata, Allah memang memiliki rencana lain di balik kelahirannya. Anak kedua yang lahir sebagai laki-laki pun mengidap penyakit yang sama. Komplikasi pula. Makin hari, tubuh sehatnya mulai meringkih. Kulit yang sehat mulai mengelam. Menunjukkan terlalu banyak besi yang terkandung di tubuhnya, efek dari cuci darah yang berkesinambungan, berkelanjutan...
Bagaimana rasanya menjadi seorang ibu yang tau anak yang dilahirkannya akan tumbuh dengan membawa penyakit seperti itu? Hanya Allah dan beliau yang tau...

Bu Enung dan suaminya itu calon penghuni surga. Kesabaran dan ketegaran mereka yang menjadi penyemangat anak-anaknya. Dan mereka yakini itu.Karena jika mereka bersedih, bagaimana perasaan dan hati anak-anak mereka? Pasti jauh lebih menderita dari mereka.... Karena mereka yang merasakan sakit dan terlebih pula menyusahkan orang tua mereka dengan rincian biaya...

Selang beberapa tahun, Allah kembali menguji keduanya. Bu Enung hamil anak ketiga. Dan disana sempat muncul niat untuk mengugurkan janin tak berdosa itu. Bukan karena tak diharapkan, bukan karena ibunya tak senang... Hanya saja, sang ibu tak sampai hati jika sang anak ketiga harus menanggung penderitaan yang sama dengan kedua kakaknya...

Berkonsultasi dengan beberapa teman, keluarga dan suami, tentunya... Bu Enung harus menentukan keputusan yang tak mudah. Gugurkan atau lanjutkan?  Dan masih berharap pada keajaiban Allah, masih menggantungkan harapan pada kekuatan doa, kemungkinan 75% anak mereka terlahir sehat dan normal, masih memberi harapan bagi mereka.
Bu Enung melanjutkan kehamilan, membesarkan dengan kasih sayang dan melahirkan dengan sehat, kebahagiaan menjadi seorang ibu terlihat disana.

Dan Allah memang mengetahui apa yg terbaik untuk terjadi nanti, Allah yang Maha Menetapkan, yang Memegang Takdir Hamba-hambaNya...



Anak ketiga Bu Enung pun mengidap penyakit yang sama... Allah Maha Besar dengan segala kehendakNya. Bu Enung itu wanita yang kuat. Wanita yang sabar. Wanita yang taat pada Allah dan RasulNya. Wanita yang tunduk patuh pada imamnya. Dan Allah tau itu. Sangat tau itu.
Dan Bu Enung hidup bahagia membesarkan 3 anak titipan Allah bersama suaminya tercipta. Dengan segala cobaan yang terus diterimanya.
Cuci darah, cek ginjal, obat-obatan, dan semuanya, se~mu~anya, Bu Enung jalani dengan sabar dan bahagia agar anak-anaknya tak merasa sakit. Sampai memiliki alat cuci darah sendiri di rumahnya, betapa Allah menguji kesabaran Bu Enung dan keluarganya. Allah meningkatkan derajatnya.

Dan satu persatu, ketiga titipan Allah tersebut, Allah ambil. Penuh kesadaran, Bu Enung dengan ikhlas mengembalikannya. Mereka hanya titipanNya. Hanya hiasan sementara rumah mereka di dunia, penghuni surga abadi mereka...
Satu persatu anak-anaknya menghembuskan nafas terakhir di pangkuannya.
Dari anak pertama yang meninggal di usia 21-nya. Perempuan yang bahkan belum pernah merasakan indahnya memiliki pasangan dan berumah tangga...
Lalu anak kedua... lelaki yang kurus dengan perut yang membusung.. Menandakan pembengkakan hati dan limfa, karena cuci darah tiap bulan yang harus dilakukannya... Meninggal di umur 19 tahunnya.
Hingga murung rumah yang tadi ceria. Hingga terdiam semuanya. Menanti kejutan apalagi yang tengah Allah persiapkan untuk mereka...


Dan hari ini, adalah hari dimana Bu Enung kembali diuji, saat anak ketiganya, anak bungsunya, titipan terakhir dariNya, kembali Allah ambil.
Ngilu rasanya. Sedih membayangkan bagaimana rasanya menjadi beliau. Hancur hati, itu pasti. Ditinggalkan lebih dulu oleh ketiga buah hatinya . KETIGA-TIGANYA....
Innalillahi wa innailaihirojiun, Andri Tiarham Ansori 2006-2009. Anak ketiga dr Bu Enung. Semoga Allah melapangkan kuburmu, Adik....

 Oh  iya, kalau ada yang heran dan bertanya, 'Kenapa Dina bisa tau sedetail itu tentang keluarga Bu Enung?"
Jawabannya simpel kok, karena beliau tetangga saya, rumahnya hanya berjarak 5 meter dari rumah saya...




Dan Allah benar-benar sempurna dalam menguji dan memberikan gantinya. Allah menjanjikan surga bagi mereka yg bersabar, itu janjiNya, pasti. ..




Dan seketika saya merasa sangat teramat bersyukur berkesempatan untuk bertemu dengan beliau, mempelajari kebijaksanaan yang lahir dari ketegaran di balik bertubi-tubi ujian yang datang padanya....

Merasa sangat bersyukur terlahir sempurna, sehat tanpa cacat sedikitpun
Merasa sangat bersyukur memiliki keluarga yang masih lengkap sampai saat ini
Merasa sangat bersyukur dan bahagia masih diberi kesempatan untuk memanggil seseorang dengan sebutan IBU... dan berbakti kepadanya...



Merasa sangat bersyukur...

Fabiayyi'ala irrabbi kumatukadziban, Na...?

Tidak ada komentar:

Terima kasih sudah singgah. Tak perlu segan untuk menyanggah atau memberi tanggapan atas pikiran yang tercurah. Kalau ada yang ingin ditanyakan atau mengganggu pikiran bisa kirim DM ke @celoteholic ya!

Diberdayakan oleh Blogger.